Kebijakan pengetatan moneter itu, dilakukan Bank Sentral AS sebagai respons dari melonjaknya inflasi AS. Tingkat inflasi AS per Agustus 2022 mencapai 8,3 persen, memang lebih membaik ketimbang Juli 2022 yang sebesar 8,5 persen, namun inflasi intinya atau core inflation tetap tinggi di 6,3 persen.
“(Inflasi yang tinggi) membuat semua bank sentral semua negara merespons dengan kebijakan menaikkan suku bunga dan melakukan pengetatan likuiditas. Seperti AS, selama tahun 2022 sendiri sudah naik 300 basis poin,” kata Sri Mulyani.
Kebijakan moneter AS itu pada akhirnya membuat terjadinya aliran modal asing keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Kondisi tersebut membuat nilai mata uang negara-negara berkembang pun kian melemah karena tertekan dollar AS.
“Outflow dari negara-negara emerging ini di alami berbagai negara, termasuk kita. Bahkan dalam hal ini dialami oleh Afrika Selatan, Brasil, termasuk Tiongkok. Ini tentu akan menimbulkan tekanan terhadap sektor keuangan,” jelasnya.
Sebagai informasi, mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini, sempat dibuka pada level Rp 15.006 per dollar AS, melemah dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya sebesar Rp 15.038 per dollar AS.
Koreksi tersebut terus berlanjut dalam kurun waktu 1 jam pertama perdagangan, dan menembus Rp 15.100 per dollar AS. Kini hingga pukul 17.30 WIB, kurs rupiah bertahan pada level Rp 15.129 per dollar AS, melemah 0,61 persen.












