Mewahnya Rumah Lukas Enembe, Dijaga Ribuan Simpatisan yang Bawa Senjata Tajam .

Kediaman Gubernur Papua tersangka kasus gratifikasi KPK Lukas Enembe yang berada di Koya Tengah, Muara Tami, Jayapura, Papua, masih dipenuhi ribuan simpatisan.

Dalam tayangan MetroTV, mereka berjaga-jaga di lokasi akses jalan menuju rumah Lukas Enembe sambil membawa senjata tajam golok dan busur anak panah.

Mereka berkumpul di rumah Lukas Enembe karena tidak terima KPK hendak memeriksa Lukas Enembe.

Kuasa Hukum Gubernur Papua Lukas Enembe, Aloysius Renwarin, seperti dikutip dari TribunVideo, mengungkapkan sejumlah massa masih menjaga rumah kliennya yang berada di Koya, Muara Tami, Kota Jayapura hingga saat ini.

Menurut Aloy, keberadaan massa di rumah Lukas tidak bermaksud melawan negara.

Mereka berdatangan ke rumah Lukas karena budaya setempat.

Ia mengatakan, dalam budaya masyarakat melanesia, jika ada salah satu saudara yang sakit maka keluarganya akan berdatangan.

Mereka akan memanggil pastor dan pendeta untuk berdoa, memotong babi, dan membakar batu guna memberikan spirit kepada orang yang sakit.

Sementara, kuasa hukum Lukas lainnya, Stefanus Roy Rening menegaskan Lukas tidak akan melarikan diri dari pemeriksaan KPK.

Adapun ketidakhadiran kliennya hari ini karena sedang sakit.

Ia menyatakan, jika sudah sehat dan mendapatkan konfirmasi dari dokter, Lukas yang juga menjabat Ketua DPD Partai Demokrat Papua ini akan memenuhi panggilan KPK.

Saat ini, yang menjadi prioritas adalah bagaimana Lukas mendapatkan izin dari KPK untuk menjalani pemeriksaan di Singapura.

Karena itu, pihaknya mendiskusikan dengan KPK terkait kemungkinan mengirimkan tim dokter mereka ke Jayapura untuk memeriksa kondisi Lukas

Sebelumnya, Lukas Enembe ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi Rp 1 miliar terkait APBD di Papua.

Sedianya Lukas dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Polda Papua pada 12 September lalu.

Namun, dia absen.

KPK kemudian menjadwalkan ulang agar Lukas menemui penyidik pada hari ini di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

Namun, Lukas kembali tidak hadir dengan alasan sedang sakit.

Sejak Lukas ditetapkan sebagai tersangka, situasi keamanan di Jayapura meningkat.

Sejumlah massa menjaga rumah Lukas hingga melakukan demonstrasi membawa topik ‘Save Lukas Enembe’.

Rumah Mewah Gubernur Papua Lukas Enembe yang berada di Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, menjadi sorotan seiring kasus yang menjeratnya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lukas diketahui ditetapkan sebagai tersangka gratifikasi oleh KPK.

Lembaga antirasuah itu sudah dua kali memanggil Lukas untuk diperiksa, namun kedua panggilan tersebut tidak dipenuhi.

Rumah Lukas Enembe berjarak sekitar 20 Kilometer dari Kota Jayapura.

Diperkirakan luas kediaman pribadi Lukas berada di atas lahan 1 hektare.

Sementara luas lahan keseluruhan yang mengelilingi rumah mewah Lukas diperkirakan seluas 11 hektare.

Ada sejumlah pos penjagaan sebelum masuk ke rumah Lukas Enembe.

Salah satunya pos yang berada 500 meter dari akses masuk rumah Lukas.

Pos tersebut ditempatkan di pinggir jalan raya menuju rumah Lukas.

Akses menuju rumah Lukas sudah beraspal, sementara jalur lain masih tanah.

Tim tidak bisa masuk lebih dekat lantaran akes jalan menuju rumah Lukas Enembe dijaga oleh warga dan pendukung Ketua DPD Partai Demokrat tersebut.

Tampak juga mesin pengeruk atau ekskavator yang menutup jalan dengan alat pengeruk.

Kapolresta Jayapura Kombes Pol Victor Mackbon menjelaskan memang rumah pribadi Gubernur Papua cukup luas dan terdapat aktivitas warga di sekeliling yang membantu merawat dan menjaga rumah.

Pihaknya juga beberapa kali melakukan patroli agar masyarakat mendapat kenyamanan dan keamanan.

Hal ini lantaran adanya demo untuk memberi dukungan dan perlindungan kepada Gubernur Papua Lukas Enembe.

Usai ditetapkan tersangka oleh KPK, sejumlah warga pendukung Lukas melakukan demonstrasi mengecam kriminalisasi terhadap Lukas Enembe.

Untuk mencegah eskalasi dan ancaman keamanan dan ketertiban masyarakat, dilakukan penambahan personel di Polresta Jayapura dari Brimob dan prajurit TNI dari Kodam XVII Cenderawasih.

“Jangan sampai ada situasi yang tidak terkendali, apabila ada eskalasi massa yang meningkat, kita sudah melakukan sistem pengamanan,” ujar Victor kepada tim liputan Kompas TV, beberapa hari lalu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *