Adapun korban pembunuhan telah mencapai puluhan orang pada September 1998.
Pada September 1998, Bupati Purnomo Sidik kembali mengeluarkan radiogram berisi penegasan terhadap instruksi sebelumnya, yakni pendataan orang-orang yang dinilai memiliki kekuatan magis untuk melindungi mereka dari kekerasan.
Akan tetapi, setelah dilakukan pendataan oleh pemerintah, tragedi pembantaian terhadap orang-orang yang dituding sbeagai dukun santet, justru kian meluas.
Dalam satu hari, disebutkan ada dua hingga sembilan orang yang dibunuh di Banyuwangi.
Menyasar kalangan santri
Selain dukun santet, pembunuhan massal itu juga menyasar kalangan santri dan kiai di Banyuwangi.
Kalangan santri, kiai, atau guru agama di Banyuwangi yang dituduh sebagai dukun santet, sehingga kemudian dibunuh orang kelompok orang tak dikenal.
Pembunuhan terhadap kalangan santri, kiai, dan guru agama ini disebut-sebut lekat dengan motif politik.
Pangdam V Brawijaya kala itu, Mayjen TNI Djoko Subroto, mengungkapkan pembunuhan yang terjadi pada Januari hingga Juli 1998, kemungkinan memang dilatarbelakangi motif kebencian terhadap dukun santet.












