Dampak Terbaru Perubahan Iklim: Tingkatkan Unggahan Kebencian di Media Sosial

Menurut studi terbaru, perubahan iklim dapat meningkatkan frekuensi unggahan kebencian di Twitter.

Para peneliti menemukan bahwa di AS, peningkatan ujaran kebencian di media sosial bertepatan dengan hari-hari ketika cuaca terlalu panas atau terlalu dingin.

Studi tersebut dirilis dalam jurnal The Lancet Planetary Health. Riset ini dilakukan oleh para peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) di Jerman.

Para peneliti menyaring lebih dari 4 miliar unggahan di Twitter dari pengguna di AS antara 2014 hingga 2020, sebagaimana dilansir Malay Mail, Jumat (23/9/2022).

Setelah mendapat data, mereka menganalisisnya menggunakan kecerdasan artifisial dan menggabungkannya dengan data cuaca.

Dari twit yang dianalisis, sekitar 75 juta berisi ujaran kebencian berupa ujaran diskriminatif yang ditujukan kepada kelompok atau individu tertentu, paling sering bersifat rasis atau misoginis.

Para peneliti menemukan bahwa adanya peningkatan nyata dalam frekuensi unggahan ujaran kebencian di media sosial, terutama ketika suhu di luar ruangan di atas 30 derajat Celsius.

Hal itu terjadi termasuk di daerah berpenghasilan tinggi, di mana orang-orangnya memiliki kemampuan untuk mengurangi efek dari suhu tersebut di luar ruangan.

Mengingat temuan ini, para peneliti menempatkan penekanan khusus pada hubungan timbal balik antara perubahan iklim, perilaku manusia dan kesehatan mental.

Annika Stechemesser, ilmuwan dari PIK sekaligus penulis pertama dari penelitian tersebut, menuturkan bahwa cuaca yang “nyaman” adalah antara 12 derajat Celsius hingga 21 derajat Celsius.

Jika huhu di bawah ambang batas itu, unggahan kebencian di media sosial meningkat hingga 12 persen. Sedangkan bila suhu di atas ambang batas itu, unggahan kebencian melonjak hingga 22 persen.

Baca juga: Banjir Pakistan: Bukti Nyata Perubahan Iklim Sebabkan Bencana Dahsyat

Stechemesser menegaskan, hal tersebut terjadi di seluruh penjuru AS.

“Ini menunjukkan batas adaptasi terhadap suhu ekstrem, dan menyoroti dampak sosial dari perubahan iklim yang belum diremehkan: konflik di bidang digital dengan implikasi bagi kohesi masyarakat dan kesehatan mental,” tulis para peneliti dalam rilisnya.

Pemimpin kelompok kerja di Institut Potsdam yang memimpin penelitian, Leonie Wenz, menyampaikan bahwa pertanyaan mengenai hubungan antara kondisi iklim dengan perilaku manusia selalu menggantung di kepala para peneliti.

“Selama berabad-abad, para peneliti telah bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana kondisi iklim mempengaruhi perilaku manusia dan stabilitas masyarakat,” kata Wenz.

“Sekarang, dengan perubahan iklim yang sedang berlangsung, ini lebih penting dari sebelumnya. Melindungi iklim kita dari pemanasan global yang berlebihan juga penting untuk kesehatan mental kita,” sambung Wenz.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *