BATURAJA , SUMEKS.CO – Ini kabar baik. Museum Harimau Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan (Sumsel) segera soft launching. Dan rencananya pada 2023 mendatang.
Museum Harimau berada di kawasan Objek Wisata Gua Putri Baturaja, Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Sekitar satu jam dari pusat kota Baturaja.
Museum ini cukup luas. Menempati lahan sekitar 2 ha, luas bangunannya 1 ha, tingkat tiga. Lahan parkir nyaman dan penuh pepohonan di sekitarnya.
Sedangkan Gua Harimau sendiri letaknya tak jauh dari Gua Putri. Masih di desa Padang Bindu.
Rencana Soft Launching terungkap setelah pihak Direktorat Perlindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek mengunjungi museum tersebut. Mereka dari Pengelola Badan Milik Negara, Sri Hidayati dan Lut Herwanto.
Kadin Disparbud Sumsel, Dr H Aufa Syahrizal menyampaikan kedatangan dua pegawai dari Direktorat Perlindungan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek untuk melihat existing atau kondisi sebenarnya Museum Harimau yang sudah dibangun.
“Pembangunan Museum ini pasca temuan kerangka manusia prasejarah. Yakni temuan dua ras neo mongoloid, dan ras austro melanesia berusia ribuan tahun yang ditemukan di Gua Harimau. Juga artefak, atau peninggalan peradaban prasejarah,” terang Aufa, 23 Desember 2022.
Turut mendampingi Dr Aufa, Kasi Sejarah Purbakala Agung Saputro, dan sejumlah pegawai Dinas Pariwisata OKU.
Jadi Museum Harimau ini akan menjadi tempat menyimpan benda artefak. Sebagai bahan pendidikan dan edukasi serta bukti kalau dikawasan ini ada ditemukan kerangka manusia purba.
Sebelum diresmikan, kata Aufa, masih perlu dilihat apa saja yang perlu ditambah atau diperbaiki.
“Jadi direncanakan akan dilakukan soft launching. Harapan setelah diresmikan, lanjutnya, tentu akan ada pengunjung yang ingin mengetahui soal peradaban manusia,”katanya.
Ditambahkan Aufa, sebelum diresmikan diharapkan Museum Harimau tetap dijaga.
Lut Herwanto dari Direktorat Perlindungan Kebudayaan, mengatakan, kondisi Museum Harimau tetap mereka pantau.
Untuk penerangan akan ada pemasangan lampu tembak 10 unit di lokasi. Serta melakukan pendataan atau inventarisasi jika ada bagian yang rusak sebelum diresmikan.
Diketahui, asal mula pendirian museum ini adanya penemuan beberapa fosil Harimau Sumatra di Sumatera Selatan (Sumsel). Dan akhirnya membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel mendirikan gedung museum baru. Museum Gua Harimau.
Museum ini terletak di Desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering (OKU) Ulu Sumsel.
Museum yang berdiri megah di atas komplek objek wisata Gua Harimau OKU Sumsel tersebut, menjadi pusat penelitian purbakala terbesar kedua di Indonesia, setelah Museum Sangiran di Jawa Tengah (Jateng).
Museum tersebut diunggulkan sebagai destinasi wisata baru di OKU Sumsel.
Pembangunannya sudah dilakukan sejak tahun 2016 lalu. Ini merupakan tindaklanjut dari penemuan beberapa fosil di dalam Gua Harimau.
Simposium internasional Studi Austronesia tahun 2016.
Saat Simposium internasional tentang studi Austronesia tahun 2016 yang bertajuk “Austronesian Diaspora” turut membahas beberapa hasil penelitian para peneliti Indonesia tentang sejarah Austronesia di Indonesia.
Salah satunya penemuan Gua Harimau. Gua Harimau terletak di Desa Padang Bindu, Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Gua ini ditemukan pada tahun 2008 dan mulai diteliti tahun 2009.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud, Harrry Widianto mengatakan, di dalam Gua Harimau ditemukan lebih dari 80 rangka manusia yang berciri Austronesia.
“Gua Harimau ini merupakan semacam kuburan dari manusia Austronesia yang tempat tinggalnya bisa diketahui dari berbagai gua yang ada di sekitarnya. Ada Gua Putri, Gua Silabe, dan lain-lain,” ujar Harry di sela-sela The International Symposium in Austronesian Diaspora, di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.
Dilansir dari Kemendikbud.go.id, Gua Harimau ditemukan oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), di bawah koordinasi arkeolog senior, Truman Simanjuntak.
Setelah diteliti, diperoleh kesimpulan bahwa Gua Harimau menjadi lokasi pertama kedatangan pertama manusia Austronesia di Sumatera. Sebelumnya, Teori Out Of Taiwan mengatakan rumpun Austronesia pertama datang dari Taiwan, lalu menyebar ke Sulawesi, sampai Polinesia di timur, kemudian menyebar hingga Madagaskar di barat, sampai Vanuatu di selatan.
“Dan ternyata tidak hanya dari Teori Out Of Taiwan yang ada di bagian timur, kemudian bermigrasi dan datang ke Indonesia, tetapi juga dibawa dari daratan Asia Tenggara, menyusur Sumatera, hingga akhirnya sampai ke Gua Harimau,” kata Harry.
Ia melanjutkan, dilihat dari letaknya, posisi Gua Harimau menunjukkan sebuah migrasi rumpun Austronesia tidak hanya datang dari timur, melainkan juga dari barat. Mereka bermigrasi ke Indonesia sekitar 3.500 tahun yang lalu.
Karena itulah Gua Harimau dianggap sebagai “rumah peradaban” bagi rumpun Austronesia dan menjadi tempat penelitian para peneliti Indonesia maupun mancanegara.
“Gua Harimau ini merupakan representasi tentang situs Austronesia di bagian barat, sedangkan di bagian timur ada di Maros Pangkep dan Sangkulirang, di Kalimantan Timur,” kata Harry.
Untuk melindungi dan melestarikan Gua Harimau yang telah ditemukan Tim Puslit Arkenas, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud akan membangun museum di sekitar kawasan Gua Harimau.
Diharapkan, pembangunan museum tersebut bisa menjadi tempat implementasi dari informasi penelitian yang ditemukan dan dikembangkan peneliti di Puslit Arkenas, sehingga masyarakat dapat mengetahui informasi tentang penelitian tersebut dengan lebih mudah karena dikemas secara popular.
“Puslit Arkenas memang memiliki tugas dan fungsi terkait informasi penelitian. Sedangkan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman bertugas melindungi dan mengembangkan potensi situs yang diteliti Puslit Arkenas. Situs tersebut dikembangkan dan dijadikan sebagai sebuah sarana pembelajaran publik, misalnya dengan membangun museum,” tutur.