Lahat, Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat mencatat jika di Kabupaten Lahat hanya ada dua wilayah yang masih memiliki perkebunan tembakau yang mana saat ini petani tembakau kian sedikit lantaran harga jual dan pemasaran kian sulit.
Dimana total petani tembakau di Kabupaten Lahat sebanyak 68 Kepala Keluarga (KK) yang diantaranya 50 KK di Kecamatan Merapi Selatan dan 18 KK di Kecamatan Muara Payang. Namun dua wilayah tersebut miliki pola penanaman tembakau yang berbeda.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat, Vivi Anggraini SSTP MSi melalui Kabid Produksi, Okta Dinjaya menuturksn jiks saat ini petani tembakau kian sedikit. Penyebabnya dikarenakan harga jual tembakau dan pemasarannya yang selama ini kian sulit.
Namun Menurut Okta saat ini petani tembakau kembali bergeliat, pasalnya sudah ada orang yang siap menampung tembakau hasil dari petani tersebut.
Sejak awal tahun 2022 lalu, kita terus bersosialisasi kepada petani tembakau. Bahkan kita pernah membawa orang yang mau menampungnya. Dimulai dari sana, petani tembakau kembali bergeliat,” kata Okta, Jumat (2/6/2023).
Okta menjelaskan, ada dua pola penanaman berbeda antara petani di Kecamatan Merapi Selatan dengan petani di Kecamatan Sukamerindu, dimana petani di Sukamerindu menanam tembakau di lahan khusus, sedangkan petani di Merapi Selatan bertanam tembakau di lahan yang selalu berpindah-pindah.
“Kalau di Merapi Selatan, tembakau ini seperti tanaman sela, yang bertugas menyuburkan lahan. Pola tanam yang berpindah-pindah ini sudah jadi tradisi di Merapi Selatan. Kita sudah berupaya berikan pembinaan terkait cara tanam yang benar, tapi sulit untuk merubah pola yang sudah jadi tradisi,” jelasnya.
Pihaknya menerangkan bahwa terkait hasil produksi, dua kecamatan itu totalnya di tahun 2022 lalu sebanyak 32,1 ton, 23,1 ton berasal dari petani tembakau di Merapi Selatan dan 9 ton sisanya berasal dari petani tembakau di Muara Payang.
Untuk pengolahan dan penjualan masih dilakukan secara tradisional berubah baku tembakau. Namun ada satu petani di Kecamatan Muara Payang yang telah mengolah hasil panen dengan membuat produk rokok sendiri.
“Ada satu petani yang sudah bikin rokok sendiri, namanya Rokok LAL (Lawang Agung Lama), milik Imran Sumardi warga Lawang Agung Lama. Hasilnya cukup diminati warga, bahkan sekarang Imran kesulitan dengan bahan bakunya,” terangnya.












