Menjelang tahun baru, belum ada perubahan kembali pada harga BBM Pertamina maupun BBM milik usaha swasta. PT Vivo Energy Indonesia sebelumnya sudah menurunkan harga 2 jenis BBM di SPBU miliknya. Jenis BBM milik PT Vivo yang turun yakni Revvo 90 dan Revvo 92.Revvo 90 setara Pertalite dijual Rp12.000 per liter. Sedangkan Revvo 92 setara Pertamax dijual Rp14.000 per liter.
Beruntungnya harga BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar tetap stabil. Diketahui harga jual Pertalite hari ini Rp10.000,00 per liter. Dengan penjualan BBM Solar Rp6.800,00 per liter atau hampir menyentuh angka Rp7.000/liter. Beberapa jenis BBM Non Subsidi yang mengalami kenaikan adalah Pertamax Dex naik dari Rp13.000 per liter jadi Rp13.300 per liter.
Jenis Pertamax Turbo naik menjadi Rp15.200 per liter dari harga awal Rp14.300 per liter. Terakhir, jenis Pertamina Dex harga jual saat ini mencapai Rp18.300 per liter. Kenaikan ini bukan tanpa sebab, berdasarkan keterangan Pertamina pada 30 November (Rabu malam) BBM melakukan penyetaraan harga.
PT Pertamina (Persero) telah melakukan penyesuaian harga BBM Umum dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui SPBU. Sementara itu, pada saat Harga BBM Pertamina mulai naik. Justru berkebalikan harga BBM turun berlaku pada BBM milik badan usaha swasta penyedia. Harga ini diberlakukan setelah evaluasi harga edar BBM di seluruh SPBU Indonesia.
Harga BBM mulai turun disini yakni dari harga BBM PT Vivo Energy Indonesia. Diantaranya Revvo 90 dan Revvo 92. Kemudian, BBM Revvo 92 yang setara Pertamax milik PT. Pertamina Persero. Penurunan harga BBM Vivo yang merupakan badan usaha swasta secara rinci yakni BBM Revvo turun Rp600,00 per liter, Revvo 92 turun Rp140,00 per liter. Sedangkan BBM jenis Revvo 95 naik sebanyak Rp440 rupiah per liter.
Selain itu, Pemerintah juga akan mengeluarkan aturan baru BBM subsidi untuk mengatur penjualan Solar dan Pertalite. Pemerintah ingin berikan jaminan kepada masyarakat ekonomi rendah agar mudah dapatkan BBM Subsidi. Untuk mewujudkan itu harus ada aturan baru BBM sebagai regulasinya. Dalam mewujudkan aturan baru BBM subsidi itu Kementerian ESDM sedang menunggu revisi Peraturan Presiden (Perpres) nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.
Aturan baru BBM subsidi itu bakal tuntas tahun 2023 dan akan langsung diberlakukan. Pemberlakuan aturan baru BBM Subsidi itu berkaitan dengan aplikasi Mypertamina. Dimana jual beli Solar dan Pertalite subsidi akan dilakukan lewat aplikasi Mypertamina.
Dalam aplikasi Mypertamina hanya pengguna kendaraan roda empat dan roda dua sudah terdaftar saja yang dapat beli solar dan pertalite. Aplikasi Mypertamina akan menentukan masyarakat ekonomi rendah sebagai pembeli BBM subsidi dengan mempertimbangkan spesifikasi kendaraan.
Pembatasan cubicle centimeter (CC) digadang menjadi patokan dalam menentukan dapat membeli Pertalite dan Solar subsidi atau tidak. Oleh sebab itu selama dalam pembahasan maka pertimbangan pemerintah terkait CC kendaraan dan kriteria lain akan jadi fokus utama. Sehingga tidak menimbulkan polemik di masyarakat.
Harus ada kejelasan kriteria kendaraan apa saja yang dilarang atau diperbolehkan gunakan Pertalite dan Solar subsidi. Selain itu, keputusan itu tidak menimbulkan dampak sosial lain. Intinya kendaraan yang dilarang beli solar dan pertalite adalah mobil dan motor yang mahal-mahal. Kalau mobil umum tentu harus dibantu apalagi untuk kegiatan masyarakat.
Intinya yang dilarang gunakan Pertalite dan Solar adalah milik orang yang mampu,” ungkap Menteri ESDM Arifin Tasrif kepada CNBCIndonesia di Kantor Kementerian ESDM sebagaimana dilansir sumeks,co, Sabtu 24 Desember 2022.
Kehebohan muncul ketika spesifikasi kendaraan yang dilarang isi Pertalite menyasar di atas 1.400 cubicle centimeter (cc), dan motor di atas 250 cc. Walaupun keputusan itu belum final karena masih dalam pembahasan. Arifin Tasrif menegaskan aturan baru dibuat supaya ada pengaturan penggunaan BBM subsidi berupa Pertalite dan Solar subsidi agar tepat sasaran.
Dilansir dari CNBCIndonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyampaikan ke depan harus ada pengaturan penggunaan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi agar tepat sasaran.
Sementara itu PT Pertamina Patra Niaga mencatat, konsumen yang mendaftarkan kendaraan di MyPertamina sebagai pengguna BBM Pertalite dan Solar Subsidi itu sudah mencapai 3,2 juta unit kendaraan.
Secretary Corporate Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting mengungkapkan jumlah tersebut khusus untuk kendaraan roda empat.
“BBM masih sekitar 3,2 juta kendaraan yang terdaftar (MyPertamina). Hanya roda empat. Dua belum,” kata Irto.
Pemerintah telah menetapakn 3 jenis bahan bakar minyak (BBM) dilarang beredar.
Tiga jenis yakni BBM RON 87, BBM RON 88, dan BBM RON 89 dilarang beredar.
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Saleh Abdurrahman membenarkan info dilarangnya penjualan jenis BBM RON dibawah 90 itu.
”Mulai 2023 hanya RON 90 ke atas yang boleh beredar. Intinya itu, di bawah itu mau 87, 88, 89 itu sudah nggak bisa beredar,” ujar Saleh Abdurrahman. Selasa, 25 Oktober 2022 lalu.
Alasan penghapusan BBM RON dibawah 90 itu guna meminimalisir kemungkinan kerusakan pada mesin kendaraan.
Peniadaan 3 jenis BBM tersebut untuk mendukung program buangan esmisi kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Setelah aturan baru BBM dirilis 3 dan jenis BBM dilarang jual berlaku mulai 1 Januari 2023.
Berikut daftar harga BBM Pertamina seluruh Indonesia per 29 Desember 2022:
Provinsi Aceh
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp13.900
Pertamax Turbo Rp15.200
Dexlite Rp18.300
Pertamina Dex Rp18.800
Free Trade Zone Sabang
Dexlite Rp 18.300
Sumatera Utara
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Pertamina Dex Rp19.200
Provinsi Sumatera Barat
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Pertamina Dex Rp19.200
Provinsi Riau
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.50
Pertamax Turbo Rp15.800
Dexlite Rp19.000
Pertamina Dex Rp19.600
Provinsi Kepulauan Riau
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.500
Pertamax Turbo Rp15.800
Dexlite Rp19.000
Pertamina Dex Rp19.600
Free Trade Zone (FTZ) Batam
Pertamax Rp 14.500
Pertamax Turbo Rp 15.800
Dexlite Rp 19.000
Pertamina Dex Rp 19.600
Provinsi Jambi
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.500
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Provinsi Bengkulu
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.500
Pertamax Turbo Rp15.800
Dexlite Rp19.000
Pertamina Dex Rp19.600
Provinsi Sumatera Selatan
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Pertamina Dex Rp19.200
Provinsi Bangka Belitung
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Pertamina Dex Rp19.200
Provinsi Lampung
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Provinsi DKI Jakarta
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp13.900
Pertamax Turbo Rp15.200
Pertamina Dex Rp18.800
Provinsi Banten
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp13.900
Pertamax Turbo Rp15.200
Pertamina Dex Rp18.800
Provinsi Jawa Barat
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp13.900
Pertamax Turbo Rp15.200
Dexlite Rp18.300
Pertamina Dex Rp18.800
Provinsi Jawa Tengah
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp13.900
Dexlite Rp18.300
Pertamina Dex Rp18.800
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Turbo Rp15.200
Dexlite Rp18.300
Pertamina Dex Rp18.800
Provinsi Jawa Timur
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 13.900
Pertamax Turbo Rp15.200
Dexlite Rp18.300
Pertamina Dex Rp18.800
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 13.900
Pertamax Turbo Rp 15.200
Dexlite Rp 18.300
Pertamina Dex Rp 18.800
Provinsi NTB
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 13.900
Pertamax Turbo Rp 15.200
Dexlite Rp 18.300
Pertamina Dex Rp 18.800
Provinsi NTT
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 13.900
Pertamax Turbo Rp 15.200
Dexlite Rp 18.300
Pertamina Dex Rp 18.800
Provinsi Kalimantan Barat
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Kalimantan Tengah
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Provinsi Sulawesi Utara
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Gorontalo
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Sulawesi Tengah
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Sulawesi Tenggara
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Sulawesi Selatan
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Maluku
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Maluku Utara
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp 14.200
Pertamax Turbo Rp 15.500
Dexlite Rp 18.650
Pertamina Dex Rp 19.200
Provinsi Papua
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Pertamax Turbo Rp15.500
Dexlite Rp18.650
Provinsi Papua Barat
Solar Rp6.800
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp14.200
Dexlite Rp18.650
Pertamina Dex Rp19.200
CNG Gantikan BBM Pertalite
Bahan bakar CNG yang digadang-gadang sebagai pengganti BBM Pertalite kehadirannya ditunggu-tunggu masyarakat
Untuk mengenal lebih jauh tentang CNG atau Compressed Natural Gas berikut ulasan tentang bahan bakar pengganti Pertalite tersebut.
Di Indonesia, CNG dikenal juga sebagai bahan bakar gas (BBG). Saat ini CNG atau BBG sudah semakin dikenal sebagai sumber energi moda transportasi umum yang dimiliki pemerintah.
Salah satu prototipe yang sukses menggunakan CNG atau BBG sebagai sumber energi mesin penggerak adalah moda transportasi Busway.
CNG selama ini dikenal sebagai salah satu energi alternatif yang terus dikembangkan pemerintah, selain energi listrik.
Dari segi harga, bahan bakar pengganti BBM ini disebutkan lebih murah dan lebih irit dari Pertalite, solar ataupun pertamax. CNG dihargai Rp3 ribu perliter.
Kabar itu menjadi angin segar bagi masyarakat, ditengah kondisi harga BBM yang terus naik. Selain murah dan irit, masyarakat bisa turut menjaga lingkungan.
Meskipun begitu, masyarakat menantikan keseriusan pemerintah menghadirkan bahan bakar baru pengganti BBM itu.
Sebab selain menekan dampak dari emisi gas buang kendaraan bermotor dengan mengembangkan berbagai teknologi.
Direktur Utama PGN (Perusahaan Gas Negara), M Haryo Yunianto menjelaskan penggunaan CNG sebagai pengganti bbm bensin lebih irit 55 persen dibanding dengan Pertalite.
Tak hanya itu, dalam pengaplikasian CNG juga tinggal menambahkan tabung CNG berukuran 14 x 53 cm sehingga tidak mengganggu kenyamanan dalam berkendara untuk digunakan pada sepeda motor.
M Haryo Yunianto menjelaskan selain harga CNG lebih murah dari bensin, CNG juga memiliki performa lebih baik dari Pertalite karena dari bahan baku metana yang bersih dan beroktan tinggi.
Dengan tingkat oktan tinggi tentunya akan dapat menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga CNG tak hanya memberikan performa yang baik namun juga menghasilkan emisi gas buang yang ramah lingkungan.
Masih dengan M Haryo Yunianto, perhitungan yang dilakukan Pertamina, dalam penggunaan BBM Pertalite 4 liter per hari, jika di konversi ke CNG maka subsidi BBM setara 125 ribu kilo liter per tahun atau lebih pengganti bensin lebih irit 55 persen.
Tentunya safety menjadi salah satu aspek penting, menurut Haryo tingkat keamanan atau safety CNG terbilang sangat baik aman karena memiliki tekanan 200 bar, dengan tangki yang lebih besar ketimbang LGV dan terbuat dari material baja.
CNG sendiri juga telah digunakan di berbagai negara sebelumnya, terutama untuk transportasi umum.
CNG Bisa Digunakan di Kapal Nelayan
Sedangkan di Indonesia, CNG telah digunakan untuk angkutan umum, antara lain bus Transjakarta, mobil dan bajaj serta sepeda motor.
Harga CNG Rp 3.100 per liter setara premium (lsp) dan rencananya akan dinaikkan menjadi Rp 4.100 per lsp.
Selain di Indonesia CNG digunakan di daerah-daerah yang memiliki sumber gas bumi sehingga saat ini tak mengherankan kalau SPBG CNG masih terbatas jumlahnya.
Setelah melakukan uji coba, pihak Pertamina menglaim bahwa pengisian sekali full tank CNG bisa untuk 100 km bagi sepeda motor.
Haryo juga menjelaskan selain untuk penggunaan CNG di sepeda motor, nantinya CNG juga akan diaplikasikan pada kendaraan lain di antaranya kapal nelayan, kendaraan roda empat kecil serta truk.
Adapun penambahan konversi pada kendaraan roda empat, PGN memproyeksikan sebanyak 1000 truk serrta bus dan 18.000 kendaraan kecil.
Hal ini sejalan dengan program bahan bakar gas (BBG) yang telah digunakan oleh kendaraan seperti taksi, bajaj, dan bus Trans Semarang.
Pihak pertamina juga menrgetkan untuk diaplikasikan pada CNG kapal nelayan dengan jumlah konversi 6,71 BBTUD untuk 30.000 unit perahu nelayan.
Tentunya perangkat ini dirancang dengan tingkat safety yang tinggi dalam mendukung daya jelajah hingga 50 km pada mode operasi Dual Diesel Fuel (DDF) 50 persen untuk 1 hari berlayar.
Sama halnya dengan CNG untuk sepeda motor, CNG untuk kapal nelayan berkomposisi metana beroktan tinggi.
Sehingga dapat memberikan pembakaran yang sempurna dan menghasilkan peforma msin yang lebih baik dibandingkan dengan bahan bakar Solar maupun Pertalite.
Dalam pengaplikasian pada perahu nelayan, bahan bakar pengganti Pertalite ini akan bikin irit hingga 30 persen setara Rp 7.2 juta per tahun (konsumsi 10 liter BBM solar per hari).
“Kebutuhan pasokan gas untuk BBG transportasi kurang lebih 40 BBTUD di tahun 2027.
Sedangkan penggunaannya, diperkirakan meningkat hingga 410 juta LSP. Dampak lanjutannya, akan menghemat APBN untuk mengurangi BBM subsidi hingga Rp 1.25 T per tahun dengan asumsi subsidi BBM sebesar 3000 rupiah per liter,” ungkap Haryo. Dalam mendukung program pengganti Pertalite dengan CNG tersebut, pigak Pertamina akan pemanfaatan SPBG milik Pertamina yang dibangun menggunakan dana mandiri dan APBN.
Saat ini tersdapat 35 SPBG untuk direaktivasi secara bertahap dan terdapat juga 3 unit di Semarang yang telah direvitalisasi. Menurut Haryo, kenaikan harga minyak dunia dan BBM dalam negeri menjadi momentum yang tepat untuk optimalisasi gas bumi. Selain itu hal ini juga untuk meningkatkan kinerja bisnis SPBG, akselerasi gas bumi sebagai BBG oleh PGN akan memberi dampak penghematan bagi masyarakat, subsidi energi dan devisa negara.












