WASPADA! Meluasnya Potensi Karhutla 2023 di Sumatera Selatan Efek EL Nino, Menko Luhut Izinkan Rekayasa

Beberapa provinsi diminta serius mewaspadai suhu panas mendidih dan kekeringan hebat efek EL Nino 2023. Yaitu Sumatera Selatan, Jambi dan Provinsi Riau berpotensi akan mengalami karhutla yang besar dan luas.

Menkor Marves Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, telah melakukan pemetaan beberapa wilayah di Indonesia yang rawan karhutla 2023. Di Sumatera, diantaranya Sumatera Selatan dan Riau diminta untuk mewaspadai meluaskan hotspots (titik api).

Sehingga potensi karhutla hebat dapat diantisipasi sejak awal.  Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Riau  diminta mengambil langkah-langkah pencegahan perluasan karhutla efek dari El Nino 2023.

El Nino diprediksi mampir ke Indonesia Agustus 2023. Efek El Nino, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kekeringan parah, kebakaran hutan, suhu udara ekstrem, gelombang panas.

Kekeringan lahan dapat memicu terjadinya pertumbuhan hotspots. ”Lakukan mitigasi seoptimal mungkin deteksi dini wilayah yang dianggap rawan terjadinya bencana Karhutla, dan bencana lainnya,” tukasnya.

Menko Luhut dalam  pertemuan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Republik Indonesia Rabu 25 April 2023, meminta daerah melakukan teknologi rekayasa cuaca agar bisa menghadapi potensi terjadinya El Nino 2023 di bulan Agustus .

Dari beberapa provinsi yang disebutkan, ada 2 daerah di Indonesia yang diizinkan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Hal ini disebabkan Sumsel menjadi wilayah yang paling banyak terdapat titik apinya.

Menko Luhut, mengimbau satuan tugas untuk menggunakan beragam teknologi dalam memantau tingkatan risiko kebakaran di kawasan rawan agar penanggulangan bencana bisa dilakukan lebih cepat.

Jika tidak teratasi dengan baik, Menko Luhut mengkuatirkan situasu darurat Karhutla 2015, akibat El Nino, terulang.

Dampak El Nino berimbas ke inflasi Indonesia, dikarenakan besarnya kontribusi inflasi pangan terhadap inflasi keseluruhan. Hal ini terjadi karena diperkirakan 41 persen lahan padi mengalami kekeringan ekstrim.

Parahnya, jika melihat Data World Food Programme, bahwa tiga dari lima rumah tangga kehilangan pendapatan akibat kekeringan, dan 1 dari 5 rumah tangga harus mengurangi pengeluaran untuk makanan akibat kekeringan.

“Mari kita semua tetap waspada dan saling menjaga di masa masa sulit seperti ini, sehingga kerugian yang terjadi akibat peralihan cuaca bisa kita reduksi bersama demi kemaslahatan masyarakat Indonesia seluruhnya,” tandas Luhut.

Berdasarkan data yang ia dapatkan, suhu laut juga telah mencapai rekor tertingginya setelah terakhir terjadi pada tahun 2015 yang lalu. Belum lagi gelombang panas yang mendorong rekor suhu tertinggi di Asia akhir-akhir ini.

“Dari pemodelan cuaca yang kami dapatkan, El Nino di prediksi akan terjadi pada Agustus 2023 meski ketidakpastian tingkat keparahan El Nino masih sangat tinggi,” sebutnya.

Belajar dari pengalaman tahun 2015 lalu, El Nino yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan dampak kekeringan yang luas dan juga kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah. Hal ini tentunya berkorelasi terhadap turunnya produksi pertanian dan pertambangan berdasarkan data IMF.

Belum lagi dampak luas terhadap inflasi Indonesia dikarenakan besarnya kontribusi inflasi pangan terhadap inflasi keseluruhan. Hal ini kata Luhut terjadi karena diperkirakan 41persen lahan padi mengalami kekeringan ekstrim di tahun tersebut. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *