SUMEKS.CO – Viral, tayangan video ribuan kelompok jemaah laki-laki melapaskan kalimah Tauhid, Lailahhaillallah. Mereka terus mengucapkan kalimah itu sambil menggerak-gerakkkan badannya kekiri dan kanan.Dalam tayangan yang diunggah akun @eda roy berjudul Lebaran k-2 Tanjung Pauh Mudik, ada jemaah yang mengikuti ritual itu sambil memanggul seorang anak dibahunya.
Mereka terus melantunkan kalimah itu. Tubuhnya meliuk mengikuti irama kalimah penyerahan diri dan pengakuan akan ke ESA an Allah tersebut.
Ditengah-tengah jemaah terlihat seseorang berjalan sembari membawa dupa dengan asap mengepul. Dia berjalan mengelilingi para jemaah yang tenggelam dalam suasana khusuk
Tidak disebut lokasi persis ritual ini. Pengunggah hanya menulis tagar Sungai Penuh, Kerinci, Jambi dan tagar jangan kendor jaga imun an hidup sehat.
Namun dari tayangan itu, nampaknya para jemaah ini berada di lereng bukit atau gunung. Didepannya terlihat hutan dengan pepohonan yang lebat nan menghijau
Dibagian belakang ada jemaah yang duduk-duduk sembari memperhatikan jemaah didepannya yang terus bergerak mengikuti irama kalimah tauhid.
Ragam komentar warganet. Ada yang mengaku warga Kerinci Jambi, namun tidak tahu dengan ritual tersebut. Namun ada juga warga net yang menyebut itu di Tanjung Pauh Hilir. Ritual itu namanya Ziarah makam bersama sertra sikir dan doa bersama.
Sementara, Anggraybu_dheysshy91 menyebut itu bagian dari tariqod. Ritual itu disebutnya sebagai tatacara tulak balak. “Salam dari Kabupaten tetangga Solok Selatan,” ujarnya.
Banyak pula yang menanyakan maksud dan tujuannya ritual itu apa dan hanya Allah yang tahu. Ada juga netizen yang menyebut itu sebagai Ratif Tagak.
Dari tayangan video sekilas tidak ada penyimpangan dari ritual itu. Kalimah tauhid yang mereka lapazkan, tidak ada unsur atau tambahan kata-kata lainnya.
La Ila Haillallah yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Sebuah bentuk penghambaan umat yang mengakui ke esaan Allah yang maha satu. Tidak ada zat lain yang patut disembah selain Allah SWT.
Dikutip dari laman Kemdikbud.go.id warisan budaya takbenda, Ratik Bosa adalah ritual tradisional salah satu dzikir atai badikia yang bersifat tradisional. Ratik adalah amalan umat Islam di Rokan Hulu dengan menyebut nama Allah secara bersama dan sebagian orang di Rokan Hulu banyak menyebutkan Ratik Tarak karena dilakukan sambil tagak (berdiri) dan ini ada hanya di Rokan Hulu.
Ritual Ratik salah satu ritual dzikir yang tetap mendapat tempat di tengah masyarakat. Di zaman modern ini keberadaannya sudah hampir punah jika tidak dilestarikan.
Ritual ini memiliki banyak manfaat: sebagai salah satu upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT karena melakukannya sangat khusyuk; Untuk kesehatan karena Ratik ini banyak melakukan gerakan bahkan gerakannya hampir seperti gerakan salat; Menjalin silaturahmi; Memberikan ketenangan bathin; Membentuk pribadi jadi lebih baik. Dalam pelaksanaan ritual Ratik Bosa dipimpin oleh seorang ketua atau syekh dilakukan dengan berbagai macam ritual di antaranya: Ratik Malenggok (Ratik atau dzikir yang caranya dilenggokkan gerakannya), Ratik Berjalan (Ratik atau dzikir yang gerakannya berjalan bersama-sama keliling daerah), Ratik Duduk (Ratik atau dzikir yang caranya duduk), dan Ratik Tolak Bala.












