Syekh Ahmad Ar-Rifa’i Wali Qutub Penjaga Semesta, Mencium Tangan Rasulullah dari dalam Kubu

SUMEKS.CO – Syekh Ahmad Ar-Rifa’i RA merupakan sosok ulama sufi berkebangsaan Irak. Pada abad ke-6 Hijriah atau 12 Masehi, Syekh Ahmad Ar-Rifa’i RA bisa mencium tangan Rasulullah SAW di dalam makamnya.

Hal itu dilakukan Syekh Ahmad Ar-Rifa’i RA saat pergi haji. Ketika itu Syekh Ahmad Ar-Rifa’i RA berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Saat itu, tampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu.

Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke makam Nabi SAW tersebut. Salah seorang muridnya berkata :

“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub”. Jawabnya: “Sucikan olehmu syak mu daripada Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghausiyah”.

Al-Imam Sya’roni mengatakan, yang demikian itu adalah dalil bahwa Syekh Ahmad Al-Rifa’i RA telah melampaui “Maqamat” dan “Athwar”, karena Qutub dan Ghauts itu adalah makam yang maklum (diketahui umum).

Syekh Ahmad Ar-Rifa’i merupakan seorang Wali Qutub, ulama sufi yang menjadi tonggak thariqah dan tokoh para wali agung.

Dia bernama lengkap Syekh Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i bin Sayyid Ali bin Sayyid Yahya bin Sayyid Tsabit bin Sayyid Hazim bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Ali bin Sayyid Hasan Al Rifa’ah.

Jika nasabnya diteruskan, akan sampai kepada Sayyidina Husain bij Sayyidina Ali WA Sayyid atina Fatimah Az Sahra binti Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.

* Syaikh Syamsuddin Sibtu bin Al Zauji dalam kitab Tarikhnya mengatakan, disamping Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i memiliki banyak karomah dan maqam(kedudukan), santri-santrinya juga luar biasa. Mereka terkadang menaiki bintang buas dan bermain-main dengan ular.

* Imam Ahmad Ar-Rifa’i sering melihat (tajalli/tersingkap) Nur kebesaran Allah SWT. Ketika itu terjadi, dirinya pun meleleh seperti genangan air. Berkat kelembutan dan kasih sayang Allah SWT, Imam Ahmad Ar-Rifa’i kembali mengeras sedikit demi sedikit hingga kembali wujud semula.

* Jika ada orang yang minta dituliskan azimat kepadanya, Ahmad Ar-Rifa’i mengambil kertas lalu menuliskannya dengan tanpa pena atau tinta.

* Ketika sedang mengejar di atas kursinya, orang yang jauh sekalipun akan mendengar suara Imam Ahmad Ar-Rifa’i, seperti sedang berada di dekatnya. Bahkan, semua penduduk Desa Ummi Abidah dan sekitarnya pun turut mendengar, seperti berada di sekitar pengajiannya. Termasuk orang tuli pun akan dibuka pendengarannya oleh Allah SWT, bila datang ke majelis pengajian Ahmad Ar-Rifa’i. *

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *