Salah seorang peserta, Ratiola (40), warga Kelurahan Petirodongi yang ditemui di lokasi mengatakan proses pembakaran inuyu sampai matang tersebut butuh waktu dua hingga tiga jam.
Diakuinya, selain diikutsertakan dalam upaya pecahkan rekor MURI, pembakaran nasi bambu tersebut merupakan sebuah tradisi warga Poso apabila mengadakan perayaan adat Padungku, atau lebih dikenal pesta syukuran hasil panen.
‘’Yah, untuk bisa masak betul, butuh waktu pembakaran selama dua hingga tiga jam,’’jelas Rantiola.
Sementara itu Direktur Pelaksana MURI, Yusuf Ngadri kepada wartawan mengatakan pembakaran inuyu (nasi bambu) sebanyak 7.000 buah yang dilakukan saat Festival Danau Poso berhasil memecahkan rekor nasional.
Rekor yang dipegang MURI sebelumnya tercatat di Minahasa, Sulawesi Utara, di mana sebanyak 6.000 nasi bambu dibakar.
“Iya, ini rekor MURI baru dengan jumlah lebih banyak yakni 7000 bambu. Sebelumnya di Minahasa sebanyak 6000 bambu. Kami akan usulkan ke rekor dunia capaian ini,” ungkap Yusuf.
Yusuf menjelaskan, nasi bambu tersebut sebenarnya bukan kuliner baru di Indonesia, namun sejumlah daerah juga memiliki kuliner yang sama.
Hanya saja sebutannya berbeda, seperti Nasi Jaha di Sulawesi Utara. Ia memuji tradisi pembakaran nasi bambu tersebut sarat dengan nilai sosial.
“Ya, ini sangat bagus karena melibatkan banyak orang. Mereka bekerja sama dan bergotong royong sekaligus bersilaturahmi,” jelasnya.












