Dewan Geram Pasien Ditolak RSUD Martapura OKU Timur, Begini Penjelasan Direktur,

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA –Anggota DPRD OKU Timur Fraksi Golkar Komisi II Herman mengaku geram adanya pasien yang mengidap penyakit dalam ditolak di RSUD Martapura OKU Timur, Senin (31/10/2022).

Pasien Ditolak RSUD Martapura bernama yakni Suprapti (61) warga Desa Pemetung Basuki, Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Kabupaten OKU Timur.

Supriono (39) anak kandung korban menjelaskan, saat datang ke rumah sakit ibunya ditolak oleh tenaga kesehatan di RS tersebut di depan pintu UGD dengan alasan kamar sedang penuh.

“Kami sempat lama menunggu tanpa ada penanganan awal, namun setelah Pak Herman datang, baru ada penanganan,” kata Supriono.

Diketahui Suprapti mengidap penyakit gondok beracun selama 10 tahun.

“Sebelumnya sudah sering berobat,” bebernya.

Herman menilai, pelayanan di RSUD Martapura ini sudah tidak beres lagi.

“Urusan pelayanan belum diutamakan, bahkan yang paling utama kesehatan dari dulu tidak ada peningkatan. Saya sebagai komisi II sudah banyak mendapatkan laporan,” kata Herman.

Herman mempertanyakan kinerja petugas di RSUD Martapura, sedangkan DPRD sudah maksimal mendukung anggaran.

“Kami akan sidak, kenapa seperti ini pelayanan yang dibawah ini tidak memuaskan. Perlu kami cek semua termasuk obat obatan,” pungkasnya.

Penjelasan RSUD Martapura 
direktur RSUD Martapura dr Dedy Damhudy menjelaskan bahwa memang terjadi mis komunikasi antara stafnya dengan keluarga pasien.

Senin (31/10/2022) pagi sekitar pukul 10.30 WIB, kata dr Dedy, ia sedang rapat menjelaskan ke manajemen dan dokter umum tentang sistem rujukan terintegrasi.

Kemudian ia dipanggil satpam bahwa ada anggota DPRD yang menghantarkan pasien.

Setelah itu, dr Dedy langsung bergegas turun langsung menemui pasien dan anggota DPRD tersebut.

“Pasien langsung saya bawa masuk ke UGD diperiksa dan saya minta kepada keluarga pasien menunjukan surat rujukan,” terang Dedy.

Dari surat rujukan yang yang diperlihatkan keluarga pasien, diketahui bahwa Suprapti sebelumnya sudah dilakukan tindakan medis di RS yang berada di Bandung.

“Saya baca ternyata rujukan ke dokter penyakit dalam di Palembang, karena Palembang jauh maka kami arahkan ke dokter kami dan saya bertindak cepat. Pasien itu kita dahulukan diperiksa dan diberi obat,” bebernya.

Keluarga pasien dan juga dr Dedy sama-sama meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.

“Pasien meminta maaf dan saya juga meminta maaf apabila staf saya di UGD mis komunikasi, mungkin pasien datang langsung minta dirawat inap tapi kita lihat dulu indikasi medisnya,” jelasnya.

Saat diperiksa, lanjut Dedy, kondisi pasien ternyata tidak perlu menginap cukup rawat jalan saja diberi obat.

“Tadi malam dia sempat diinfus di bidan kondisinya memang sempat drop, tapi pagi tadi kita periksa keadaanya membaik. Yang pasti kami akan berbenah,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *