“Apa Benar Bumi Semakin Panas?”

Jakarta, CNN Indonesia — Isu krisis iklim dan pemanasan global sering dilawan dengan tudingan berbau konspirasi elite global. Simak fakta ilmiahnya berikut.
Para penggemar teori konspirasi itu bergerilya terutama di media sosial dan aplikasi percakapan.

Di Twitter, bentuknya tagar #ClimateHoax dan #ClimateScam. Akun @bombastic_bob misalnya mengklaim karbon dioksida (CO2) bukanlah pemicu menghangatnya suhu air laut.

“Omong-omong, ketika temperatur samudra naik, CO2 dilepaskan ke atmosfer. Itulah kenapa, level CO2 menjadi lebih tinggi. Tentu saja, CO2 bukanlah dalang di balik penghangatan samudra. Matahari lah yang melakukannya,” tulis akun tersebut.
By the way – when ocean temps are warmer, CO2 is released into the atmosphere. This is why CO2 levels are higher. Of course, CO2 is NOT behind the ocean warming. Mr. SUN is doing that.#ClimateChangeHoax #ClimateScam pic.twitter.com/WpnN0zhFBK

– Bombastic Bob (@bombastic_bob) May 9, 2023

Akun @M5needspower juga menyebut suhu hangat yang merusak kehidupan merupakan “mitos”. Sebaliknya, suhu air yang dingin lah yang akan lebih merusak.

“Lihat, letak air yang paling hangat, dan letak populasi kehidupan terbesar ada di tempat yang sama. Penghangatan merusak kehidupan merupakan mitos. Air dingin jauh lebih merusak,” tulis M5needspower.

Note where the hottest water is, and where the biggest life population is are the same place

It’s a myth that warming damages life. Cold water is much more damaging #ClimateChangeHoax pic.twitter.com/T8Oy0mvFtA

– ❌ M5 ❌ (@M5needspower) May 7, 2023
Akun @TKatipunero juga menyebut, isu netral karbon punya kaitan dengan Partai Demokrat di Amerika Serkat (AS). “Carbon neutral apa!, Orang-orang #DemocRATs, serakah. Menggunakan #Climatechangehoax untuk mengambil pemilih. Untuk mencapai tahap #carbonneutral, dunia butuh magnitude yang lebih bangat, seperti 100 juta tahun lalu,” tulisnya.

Carbon neutral my ass! These #DemocRATs are grifters. Using #ClimateChangeHoax to pick people’s pockets to buy votes. To be #carbonneutral, the world needs to be order of magnitude warmer. Like 100m years ago!👇👇👇 pic.twitter.com/pk0GVPLGMf

– Real Katipunero✝️🇵🇭🇺🇸#SunTzuMe (@TKatipunero) May 5, 2023
Dilansir Newsweek, Partai Republik di AS bahkan kerap menggunakan diksi “kontrol pemerintah,” “tatanan dunia baru,” dan “politisi global,” untuk melawan para pengusung isu perubahan iklim.

“Sebagian besar orang yang skeptis dan pembantah perubahan iklim menyebut isu ini cerita yang dilebih-lebihkan ketimbang dibuat-buat. Pelakunya adalah kaum liberal untuk melegitimasi negara besar yang mengendalikan semua orang,” Tim Forsyth, profesor lingkungan dan politik di London School of Economics.

Bagaimana kita tahu isu pemanasan global bukan konspirasi?
Melansir situs Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), ada beberapa fakta yang menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan hal nyata.

Iklim Bumi memang berubah sepanjang sejarah. Dalam 800 ribu tahun terakhir, ada delapan siklus Zaman Es dan periode yang lebih hangat, dengan akhir paling terakhir ada di 11.700 tahun lalu yang memulai juga era modern iklim.

Kebanyakan perubahan iklim tersebut berasal dari variasi kecil dalam orbit Bumi yang mengubah jumlah energi Matahari yang diterima planet ini.

Trend penghangatan yang ada saat ini berbeda lantaran pengaruh aktivitas manusia sejak pertengahan 1800an dan berlangsung dengan kecepatan yang tidak terlihat selama ribuan tahun terakhir.
Tidak dapat disangkal bahwa aktivitas manusia telah menghasilkan gas atmosfer yang telah memerangkap lebih banyak energi Matahari dalam sistem Bumi.

Energi ekstra ini telah menghangatkan atmosfer, samudra, dan daratan, dan perubahan luas dan cepat di atmosfer, samudra, kriosfer, dan biosfer telah terjadi.

Saat ini, level karbon dioksida global ada di angka 420 ppm (bagian persejuta). Jumlah tersebut meroket dari angka 300 ppm pada tahun 1950an. Sebagai salah satu gas rumah kaca, CO2 ikut menghangatkan suhu air laut.

Dikutip dari situs United States Environmental Protection Agency (EPA), ketika gas rumah kaca menjebak lebih banyak energi dari matahari, samudra menyerap lebih banyak panas sehingga suhu permukaannya meningkat.
Perubahan temperatur samudra dan arus karena perubahan iklim akan menyebabkan perubahan pola iklim di seluruh dunia.

Teknologi terbaru ditambah satelit yang mengorbit Bumi juga telah membantu para pakar melihat gambaran besar isu ini. Pasalnya, dua hal tersebut membantu pengumpulan informasi yang beragam tentang Bumi dan iklimnya di seluruh dunia.

Data-data tersebut mengungkap tanda dan pola perubahan iklim. Para ilmuwan juga telah mendemonstrasikan sifat alamiah untuk menjebak panas dari karbon dioksida dan gas lainnya di pertengahan Abad ke-19.

Secara singkat, NASA menyebut setidaknya ada sembilan bukti nyata perubahan iklim, yakni:
1. Suhu rata-rata dunia naik 1℃
NASA menyebut suhu permukaan rata-rata planet meningkat sekitar 2 derajat Fahrenheit (1 derajat Celcius) sejak akhir abad 19. Hal ini sebagian besar didorong oleh peningkatan emisi karbon dioksida ke atmosfer dan aktivitas manusia lainnya.

Sebagian besar pemanasan terjadi dalam 40 tahun terakhir, dengan tujuh tahun terakhir menjadi yang terpanas. Tahun 2016 dan 2020 sama-sama tercatat sebagai tahun terpanas.

2. Lautan lebih hangat
Lautan menyerap banyak panas yang meningkat itu, dengan 100 meter lapisan teratas lautan menunjukkan pemanasan 0,67 derajat Fahrenheit (0,33 derajat Celcius) sejak 1969.

Bumi sendiri menyimpan 90 persen energi ekstra di lautan.
3. Es Greenland dan Antartika menyusut
Lapisan es di dua ‘daratan’ es besar di kutub utara dan selatan, Greenland dan Antartika, makin berkurang massanya.

Data dari Pemulihan Gravitasi dan Eksperimen Iklim NASA menunjukkan Greenland kehilangan rata-rata 279 miliar ton es per tahun antara 1993 dan 2019, sementara Antartika kehilangan sekitar 148 miliar ton es per tahun.

4. Gletser menyusut di mana-mana
Gletser (lapisan besar es yang bergerak turun perlahan-lahan di lereng gunung atau di dataran) menyusut hampir di mana-mana di seluruh dunia.

Itu terjadi di antaranya di Pegunungan Alpen, Himalaya, Andes, Rockies, Alaska, dan Afrika.

5. Lapisan tutupan salju menurun
Pengamatan satelit menunjukkan jumlah tutupan salju musim semi di belahan Bumi utara menurun selama lima dekade terakhir dan salju mencair lebih awal.

6. Kenaikan muka air laut
Permukaan laut global naik sekitar 8 inci (20 sentimeter) pada abad 20. Tingkat kenaikannya dalam dua dekade terakhir bahkan mencapai hampir dua kali lipat dari abad lalu dan meningkat sedikit demi sedikit setiap tahun.

7. Es Arktik menyusut
Luas dan ketebalan es di Laut Arktik (Kutub Utara) menurun dengan cepat selama beberapa dekade terakhir.

8. Cuaca ekstrem makin sering
Jumlah rekor peristiwa suhu tinggi di Amerika Serikat telah meningkat. Sementara, jumlah rekor peristiwa suhu rendah menurun sejak 1950.

Beberapa negara, termasuk Indonesia, juga menjadi saksi peningkatan jumlah peristiwa curah hujan yang intens hingga membuat kemarau tetap basah.

9. Keasaman samudra naik
Sejak awal Revolusi Industri, keasaman permukaan air laut meningkat sekitar 30 persen. Peningkatan ini disebabkan oleh manusia yang melepaskan lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer yang membuatnya lebih banyak diserap ke laut.

Lautan menyerap 20 persen hingga 30 persen dari total emisi CO2 antropogenik (yang dihasilkan manusia) dalam beberapa dekade terakhir (7,2 hingga 10,8 miliar metrik ton per tahun).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *