Di sela-sela kegiatan Umroh minggu yang lalu, rombongan kami dibawa juga ke kebun kurma, seperti di foto di bawah ini. Adalah bagus bahwa sekarang jamaah Umroh kita hanya berkunjung ke kebun kurma dan tidak lagi dibawa berjalan-jalan ke peternakan unta–yang dulu sering jadi paket kunjungan pula.
Sekarang memang tidak dianjurkan berkunjung ke peternakan unta karena ada risiko–walaupun kecil–tertular penyakit “Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV)”.
Kita ingat, kasus pertama MERS-CoV Malaysia dulu juga sakit setelah berkunjung ke peternakan unta di Arab Saudi.
Tentang kesehatan, setidaknya ada tiga catatan lain dari pengalaman saya di Saudi kali ini.
Pertama, biasanya sangat mudah membeli antibiotika di toko farmasi di seputar kota Makkah dan Madinah. Tetapi kali ini tidak boleh lagi membeli antibiotika secara bebas, harus ada resep dokter, sangat ketat.
Ini hal yang amat baik karena penjualan bebas antibiotika tanpa resep dokter akan berujung pada terjadinya pandemi senyap “Antimicrobial Resistance (AMR)”.
Pada waktu saya menjadi koordinator AMR di WHO Asia Tenggara, saya ingat bahwa koordiantor AMR di WHO Jenewa adalah seorang dokter wanita dari Arab Saudi. Rupanya dia “walk the talk“, membuat aturan AMR tingkat dunia dan berhasil menerapkannya di negaranya sendiri juga.
Mudah-mudahan semua apotek kita juga ketat menjaga aturan, tidak memperbolehkan orang membeli antibiotika tanpa resep dokter, karena itu akan merugikan pasiennya sendiri.












