“Saya percaya dengan perkataan anak saya, karena sedari kecil saya didik dia untuk tidak berbohong,” tegasnya.
Awalnya, Ermawangi mendapatkan telepon dari sang anak yang duduk di bangku kelas VII minta untuk dijemput.
Lalu saat tiba di rumah, anaknya MF yang biasanya periang menjadi pendiam dan sering mengeluh sakit.
“Bahkan, sampai muntah-muntah. Awalnya tak mau bercerita apa yang dialaminya,” katanya.
Betapa terkejutnya Ermawangi, saat mendengar pengakuan anaknya, yang mengaku telah dicekik dan dianiaya oleh seniornya berinisial NA saat berada di pesantren tersebut.
“Lehernya dicekik hingga sempat kesulitan bernafas. Tidak hanya di situ anak saya kembali ditonjok hingga dia mengalami trauma dan takut untuk kembali ke sekolah,” ujar Erma.
