RSU Pancaran Kasih Jawab Viral Sogok Keluarga Pasien COVID yang Meninggal

0
31

Manado – Beredar video keluarga pasien di Rumah Sakit Umum (RSU) Pancaran Kasih, Manado, merasa disogok pihak rumah sakit agar pasien yang meninggal dunia itu dinyatakan positif COVID-19. Direktur RSU Pancaran Kasih Frangky VT Kambey angkat bicara.
Kejadian ini terekam dalam video dan ramai diperbincangkan di Facebook. Salah satu akun menuliskan bahwa pasien ini sebenarnya meninggal sakit jantung, namun–masih berdasarkan tulisan akun FB ini–pihak dokter menyogok keluarga agar pasien meninggal dunia ini dijadikan korban COVID-19.

Dirut RSU Pancaran Kasih menanggapi video viral ini. Dia menjelaskan mekanisme ketika seorang pasien masuk rumah sakit.
“Mengenai berita viral di media sosial, setelah kami diskusi dan berkonsultasi dengan Ketua Gugus Tugas Manado, dalam hal ini Wali Kota Manado Vicky Lumentut, kami disarankan untuk memberikan klarifikasi. Setiap pasien yang masuk di RSU Pancaran Kasih, baik ODP, PDP atau positif COVID-19 terkonfirmasi, pada saat masuk, kami langsung notifikasi ke Gugus Tugas Manado dan provinsi, dan selama penanganan dan perawatan. Apabila pasien meninggal, kami juga memberitahukan kepada Gugus Tugas Manado dan provinsi,” kata Frangky, Selasa (2/6/2020).

Frangky menjelaskan, ketika ada pasien ODP, PDP, bahkan pasien positif COVID-19 yang meninggal, protokol langsung diterapkan.

“Di rumah sakit kami ada yang meninggal dari berbagai agama, masing-masing ada penanganan sesuai dengan keyakinannya. Kebetulan pasien yang meninggal beragama muslim. Jadi kami menggunakan Fatwa MUI Tahun 2020 Nomor 18 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim yang Terinfeksi COVID-19,” jelasnya.

Di pasal itu, disebutkan jenazah bisa dimandikan, dikafani, dan disalatkan atas dasar pertimbangan untuk memandikan dan mengkafani oleh petugas dan untuk disalatkan oleh pemuka agama. Petugas yang mengurus jenazah ini bakal diberikan insentif.

Frangky lalu menjelaskan alasan mengapa pihaknya juga memberikan insentif kepada keluarga korban.

“Biasanya kebijakan kami, karena yang menyalatkan, memandikan, dan mengafani menanggung risiko tertular, maka wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) level III, dalam hal ini APD lengkap. Dan biasanya kami memberikan insentif Rp 300 ribu per orang,” sebut dia.

“Kebetulan yang terjadi tadi yang memandikan, mengafani, dan menyalatkan pemuka agama. Itu cuma satu petugas, biasanya ada tiga, petugas kami melaporkan ada dua insentif yang tertinggal. Saya langsung bilang berikan saja kepada siapa saja yang ada di situ, kebetulan yang ada di situ keluarga dan menurut petugas keluarga tidak menerima,” ujarnya.

Dalam klarifikasinya, Frangky mengatakan yang terjadi ialah miskomunikasi. Dia menegaskan pihak rumah sakit sama sekali tak berniat menyogok.

“Kalaupun kami salah, kami mohon maaf, tapi dari lubuk hati kami yang terdalam, kami hanya menjalankan tugas, dan misalkan itu diterima, anggaplah itu sebagai ungkapan berbelasungkawa, bukan untuk menyogok untuk menyatakan pasien ini positif COVID-19, sedangkan untuk menentukan pasien ini positif COVID-19 perlu pemeriksaan swab PCR,” sebut dia.

“Sepanjang dia belum ada hasil, dia tidak dinyatakan sebagai pasien positif COVID-19 dan saat ini pasien dalam status PDP. Untuk protokol yang digunakan memakamkan jenazah adalah harus protokol penanganan jenazah COVID-19,” tuturnya.

 

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-5037384/rsu-pancaran-kasih-jawab-viral-sogok-keluarga-pasien-covid-yang-meninggal/2