KAYUAGUNG, SUMEKS.CO – Curah hujan yang sudah rendah, membuat lahan kosong milik warga di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kembali terbakar.
Baru-baru ini, Kebakaran Hutan dan Lahan (Kahutla) kembali terjadi di dua Kecamatan yaitu di Pangkalan Lampam dan Jejawi.
“Iya Jumat 4 Agustus kemarin kebakaran lahan terjadi di 2 Desa 2 Kecamatan. Yakni Desa Tanjung Aur, Kecamatan Jejawi dan Desa Deling, Kecamatan Pangkalan Lampam,” terang Kepala Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI, Edi Satriawan SP.
Edi menjelaskan, untuk lahan yang terbakar di Desa Deling, Kecamatan Pangkalan Lampam ini merupakan lahan vegetasi semak belukar, belidang, kumpai dan purun.
“Lahan yang terbakar ini adalah tanah mineral dan milik masyarakat, kebakarannya permukaan dan terjadinya malam hari,” ungkap Edi, Minggu 6 Agustus 2023.
Ditambahkan Edi, luasan lahan terbakar di Deling ini sekitar setengah hektar. Kebakarannya masih dibagian permukaan.
Kebakaran terjadi pada saat malam hari, pada saat pemadaman lahan membuat personil harus berjibaku dengan lebih maksimal karena angin berhembus sangat kencang.
“Dalam pemadaman oleh personil kita dan tim TNI, Polri dan lainnya, terkendala angin kencang. Sehingga api cepat menjalar ke lahan lainnya,” terangnya.
Lanjut Edi, dalam pemadaman di Deling, dibantu dengan mesin Marx-3 1 unit, kendaraan sepeda motor untuk menjangkau lokasi kebakaran dan mobil operasional pengangkut serta peralatan pendukung lainnya.
Masih kata Edi, pada Jumat itu terjadi kebakaran lahan di Desa Tanjung Aur, Kecamatan Jejawi. Dengan luasan yang terbakar diperkirakan 4 hektar.
Lahan yang terpantau ini merupakan lahan cetak sawah. Dengan kondisi lahan semak belukar, berondong dan rerumputan.
“Lahan yang terbakar ini lahan kering dengan permukaaan yang landai atau datar,” kata Edi.
Pada saat pemadaman, tim melakukan groundchek ke lokasi fire spot dengan menggunakan kendaraan roda dua dan berjalan kaki, dikarenakan lokasi yang sulit dijangkau.
“Untuk menuju lokasi fire spot tim melawati 3 kanal. Pemadaman dilaksanakan dengan menggunakan peralatan non mekanis (jet Shooter). Dan status api padam,” bebernya.
Edi menambahkan, karhutla yang sudah sering terjadi ini karena curah hujan yang sudah rendah dan lahan gambut juga sudah kering. Cuaca yang panas terus sehingga terpantau titik api.
“Kondisi panas seperti ini tim nya dan stakeholder lainnya tetap laksanakan patroli terpadu pencegahan karhutla,” pungkasnya.
