Viral: Kecewa Ayahnya Dipidana Saat Jalankan Tugas Advokat, Kate Victoria Lim Tantang Kapolri Debat

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Kecewa ayahnya, Alvin Lim dipidana ketika membela kliennya, Kate Victoria Lim tantang Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk berdebat hukum secara terbuka.

Tantangan itu disampaikan remaja yang kini duduk di Kelas 1 SMA BPK Penabur itu lewat channel Youtube @quetionTV pada Senin (21/8/2023).

Dalam video yang viral di media sosial itu, remaja yang akrab disapa Kate itu menjabarkan kejanggalan kasus hukum yang menjerat ayahnya.

Ayahnya kini ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di tahanan atas kasus dugaan pencemaran nama baik, ujaran kebencian dan hoaks ketika membeli klien.

Padahal, ditegaskannya, merujuk Pasal 16 Undang-undang (UU) Nomor 18 tahun 2003 Tentang Advokat, ayahnya sebagai seorang advokat memiliki imunitas yang melekat.

Sehingga penetapan Alvin Lim sebagai tersangka menurutnya adalah bukti perbuatan melawan hukum dan upaya kriminalisasi terhadap advokat.

“Ketika advokat dijerat pidana dalam menjalankan tugas dan tidak ada pengacara yang berani vokal memperjuangkan kebenaran, maka saya sebagai warga negara merasa terpanggil, apalagi salah satu korbannya adalah ayah saya, Alvin Lim,” ungkap Kate dalam tayangan Youtube.

“Saya bukan sombong, ataupun lancang, namun hati saya miris, saya tunggu para pengacara hebat senior seperti Hotman Paris, Otto Hasibuan, Juniver Girsang, dan advokat kondang lainnya yang saya hormati, diam 1000 bahasa dan tidak terlihat keberanian mengoreksi dan mengkritik Kapolri yang sedang jatuh di jurang kehancuran,” bebernya.

Atas hal tersebut, dirinya menantang Kapolri berdebat secara terbuka terkait kasus yang menyeret ayahnya.

Dirinya mempertanyakan soal penetapan status tersangka ayahnya yang dinilainya merupakan pelanggaran hukum.

“Yang ingin saya perdebatkan adalah penetapan tersangka dugaan pencemaran nama baik yang dituduhkan kepada ayah saya. Apakah tindakan tersebut adalah penegakan hukum ataukah pelanggaran hukum sesuai Undang-undang yang berlaku,” ungkap Kate.

“Dalam debat saya akan buktikan bahwa Polri sedang melanggar hukum khususnya pasal 16 UU No 18 tahun 2003 Tentang Advokat. Jika saya kalah, saya rela masuk penjara menemani ayah saya dan seumur hidup tidak akan mengkritik Polri,” tegasnya.

“Dengan penuh hormat saya layangkan Tantangan debat secara terbuka. Sebagai keseriusan saya akan ke mabes dan memberikan surat tantangan resmi dan tertulis. Debat Hukum ini akan ditayangkan agar seluruh masyarakat Indonesia bisa mengapresiasi prinsip transparansi Polri,” tambahnya.

Kekecewaan serupa juga disampaikan Advokat LQ Indonesia Lawfirm, Bambang Hartono, SH, MH atas kasus dugaan pencemaran nama baik, ujaran kebencian dan hoaks yang menjerat pendiri LQ Indonesia Lawfirm, Alvin Lim.

Kasus tersebut diungkapkannya bermula ketika Alvin Lim menjadi kuasa hukum, P.

Ketika itu, mobil milik kliennya yakni, Mazda Biante disita oleh Kejaksaan Negeri Jakarta selatan.

P kemudian dihubungi oleh seorang berinisial H yang mendapat surat kuasa dari leasing untuk menarik kendaraan yang disita.

H kemudian meminta uang kepada kliennya puluhan juta rupiah kepada kliennya atas permintaan seorang oknum jaksa yang menyidangkan kasus.

Setelah uang tersebut dikirimkan, kesepakatan rupanya tidak didapatkan, hakim tetap menolak pengajuan pinjam pakai.

Hal tersebut membuat P menagih kembali uang tersebut karena kendaraan tidak bisa dikeluarkan sesuai kesepakatan.

“Hal tersebut kemudian diadukan kepada Kejari dan Jamwas pada tahun 2019. Dua tahun lebih berlalu, aduan tidak ditindaklanjuti kejaksaan, maka Alvin Lim menceritakan kejadian tersebut di Youtube Quotient TV agar masyarakat bantu memantau,” ungkap Bambang pada Jumat (11/8/2023).

Keberatan dengan pernyataan Alvin Lim dalam YouTube, oknum jaksa katanya melaporkan atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah.

Dalam waktu satu minggu sejak dilaporkan, pihak Kepolisian melakukan gelar perkara dan menaikkan status Alvin Lim menjadi tersangka.

“Jelas terlihat kejanggalan dan dugaan kriminalisasi, karena perkara yang sama yang dilaporkan Alvin Lim tidak berjalan, sedangkan laporan oknum tersebut langsung diproses,” ungkap Bambang.

“Dalam kasus ini Alvin Lim hanya menceritakan apa yang diucapkan oleh H, dibuktikan dengan rekaman suara H, sehingga seharusnya H lah yang seharusnya dijadikan tersangka karena sumber berita berasal dari H. Alvin Lim hanya sebagai kuasa hukum menceritakan kembali kejadian yang terjadi dan dialami kliennya,” jelasnya.

Tak hanya itu, penetapan Alvin Lim sebagai tersangka dinilainya sangat dipaksakan.

Sebab, selain waktu proses yang relatif singkat, penyidik katanya menolak memeriksa saksi-saksi yang terlibat.

“Masih ingat kasus Ratna Sarumpaet? Fadli Zon dan Hanum Rais adalah pihak pertama yang menceritakan terjadi pemukulan dan penyerangan terhadap Ratna Sarumpaet. Namun, kemudian terbukti bahwa Ratna lah yang berbohong ketika bercerita ke Fadli dan yang dijadikan tersangka adalah Ratna Sarumpaet, bukan Fadli Zon dan Hanum Rais,” ungkap Bambang.

“Hal sama, jika oknum jaksa tidak menerima suap dalam kasus pinjam pakai, maka H lah yang patut dijadikan tersangka karena dialah sumber hoaks tersebut yang menyebarkan cerita kepada Alvin Lim,” jelasnya.

Lebih lanjut dipaparkannya, sesuai UU Advokat, Alvin Lim memiliki imunitas yang melekat dalam dirinya sebagai pengacara.

“Sehingga penetapan Alvin Lim sebagai Tersangka pencemaran nama baik adalah bukti perbuatan melawan hukum dan upaya kriminalisasi terhadap advokat,” jelasnya.

 

Jadi Whistleblower hingga Kasus Indosurya Disoroti Jokowi, Istri Alvin Lim Minta Suaminya Dilindungi

Pendiri sekaligus Ketua Umum LQ Indonesia Lawfirm, Alvin Lim kini terbaring sakit dan didiagnosa mengalami sejumlah penyakit, antara lain gagal ginjal stadium 5, gagal jantung dan cardiomegali, pneumonia serta hipertensi.

Meski sudah divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus pemalsuan surat, Alvin Lim kini kembali dilaporkan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) oleh pihak Kejaksaan.

Istri Alvin Lim, Phioruci Pangkaraya tidak rela suaminya jadi korban kriminalisasi.

Dirinya menilai seharusnya, suaminya sebagai seorang whisteblower seharusnya dilindungi negara.

Sebab, lewat aksi dan upaya suaminya membela ratusan korban investasi bodong, sejumlah kasus kini ditangani dan menjadi prioritas.

Satu di antaranya sejumlah kasus tersebut adalah kasus penggelapan dana dalam KSP Indosurya.

Kasus skema ponzi terbesar di Indonesia itu diketahui merugikan 14.000 orang dengan nilai kerugian mencapai Rp 106 triliun.

Ketika itu, Alvin Lim mendampingi ratusan orang korban, termasuk Patricia Gouw, Anya Dwinov dan Chef Arnold.

“Ada banyak korban yang sakit, meninggal dan bunuh diri karena tidak ada uang. Keluarga korban meminta bantuan dari suami saya agar membantu,” ungkap Phioruci dihubungi pada Sabtu (3/6/2023).

Beragam cara pun diungkapkan Phioruci dilakukan suaminya ketika itu.

Di antaranya melakukan aksi unjuk rasa dengan sumpah pocong hingga mengungkap sejumlah kejanggalan dalam penanganan kasus.

Hasilnya, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dan Menko Polhukam Mahfud MD angkat bicara.

Keduanya menaruh perhatian dan meminta pihak Kepolisian dan Kejaksaan untuk memproses tuntas kasus tersebut.

Namun kini situasi berbalik.

Alvin Lim yang mengungkap kasus dan melindungi korban justru dinilai Phioruci dikriminalisasi.

Suaminya kini dilaporkan telah melanggar UU ITE.

“Beginikah nasib orang baik? Ketika pemerintah tidak mampu membereskan kasus investasi bodong, mereka minta lawyer bantu. Ketika Lawyer bantu dan berhasil menjerat penjahat, giliran sang lawyer dikorbankan,” ungkap Phioruci.

“Di mana-mana Whistleblower dilindungi, bukan malah dikeroyok. Saya percaya masih ada polisi baik, jaksa baik dan pemerintah yang baik. Tapi ketika melawan penjahat kelas kakap pada tiarap dan tidak berani bela masyarakat?” tanyanya.

“Jika Lawyer yang speak up lalu dikriminalisasi dan dijerat dengan pasal ITE-pencemaran nama baik, padahal apa yang dikatakannya benar adanya, maka ini jadi bukti tidak ada hukum di Indonesia,” tutup Phioruci.

 

Phioruci Kecewa 

Diberitakan sebelumnya, Phioruci Pangkaraya mengaku kecewa sekaligus sedih atas perlakuan penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri, kepada suaminya.

Usai divonis 4,5 tahun bui dalam kasus pemalsuan surat, Alvin Lim diketahui sedang dirawat di rumah sakit karena dinyatakan gagal ginjal.

Namun kini Alvin Lim kembali dijerat kasus dugaan dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dilaporkan para jaksa.

Phioruci menuturkan, suaminya terkesan dipaksakan untuk diperiksa penyidik dalam kasus dugaan pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Alvin Lim, kata Phioruci, didiagnosa dokter gagal ginjal stadium 5, gagal jantung dan cardiomegali, pneumonia serta hipertensi.

“Dengan selang cuci darah terpasang di dada, dan tensi 210 serta paru-paru berisi air membuat sulit bernapas dan berfokus,” ujar Phioruci di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/5/2023).

“Namun, walau mengetahui bahwa Alvin Lim sedang sakit, para penyidik memaksakan agar pemeriksaan tetap dilakukan,” sambungnya.

Phioruci menegaskan, suaminya tersebut memang benar-benar sakit serius.

Hal itu dibuktikan dari hasil pemeriksaan medis tiga dokter dari berbagai rumah sakit.

“Sudah tiga dokter memberikan surat keterangan sakit, dokter RS Omni, RSCM Kencana dan RSU Pengayoman. Namun, para oknum tidak mau menerima surat tersebut dan memaksakan pemeriksaan oleh dokter Polri dan mengambil sampel darah langsung dari Alvin Lim. Setelah memeriksa, dokter Polri tersebut menyatakan memang sedang sakit tapi tetap memaksakan pemeriksaan dilakukan walau tensi dia (penyidik) ukur sendiri 210,” kata dia.

“Alhasil, Alvin Lim yang sesak napas muntah-muntah dan makin drop kesehatannya. Besok bahkan akan dilakukan operasi jantung karena kondisi makin menurun,” lanjutnya.

Ia menuturkan, apa yang dilakukan penyidik tersebut membahayakan kesehatan Alvin.

Mental dan fisiknya, kata Phioruci, akan sangat terganggu dengan tindakan itu.

“Ini dapat diduga pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia)” tutur Phioruci.

Di sisi lain, kuasa hukum Alvin bernama Rizki Indra Permana dari LQ Indonesia Lawfirm, keberatan atas proses penanganan perkara kliennya.

“Hari ini LQ Indonesia Lawfirm mengirimkan somasi kepada Kabareskrim dan Dirtipidsiber atas dugaan pelanggaran HAM,” tutur dia.

Rizki mengatakan, proses formiil penetapan tersangka Alvin Lim dalam kasus ITE dilakukan sangat cepat.

Karenanya gugatan praperadilan tengah dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Sidang pertama praperadilan, 22 Mei 2023, Mabes mangkir. Sidang kedua 29 Mei, mangkir lagi Mabes Polri,” kata Rizki.

“Bukan hanya gugatan praperadilan, hari ini juga LQ ajukan aduan resmi ke Komnas HAM dan akan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap oknum Kabareskrim, Dirtipidsiber, dkk,” lanjutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *