Perjuangan Guru di Balikpapan, Setiap Hari Harus Melintasi Sarang Buaya untuk Pergi ke Sekolah

“Kami semua harus tiba di dermaga sebelum jam 7. Sebab kalau tidak ya ditinggal. Karena kapalnya cuma satu kali aja. Jadi yang enggak hadir dianggap enggak masuk sekolah. Karena sampai di dermaga sana nanti kita harus jalan kaki lagi ke dalam sekitar 30 meter,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (25/11/2022).

Perjalanan menuju sekolah memakan waktu kurang lebih 20 menit. Dalam perjalanan, kapal klotok yang mengangkut puluhan orang itu melintas di perairan Teluk Balikpapan serta hutan mangrove.

Bukan pemandangan asing bagi Angga dan para murid melihat penampakan buaya. Hal ini lah yang membuatnya takut bahkan hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

“Perasaan takut dan cemas pasti ada mas. Soalnya kita melintas di perairan yang rawan buaya. Tapi mau enggak mau kita harus tempuh itu demi sekolah,” tuturnya.

Kekhawatiran itu sempat ia rasakan, kapal yang ditumpanginya mengalami kebocoran pada tanggal 15 Agustus 2022 lalu. Saat itu Angga dan puluhan murid sedang perjalanan pulang dari sekolah.

Namun di tengah perjalanan kapal mengalami kebocoran lantaran menabrak batang pohon. Meski berhasil menepi, namun Angga dan puluhan murid terdampar di hutan mangrove yang merupakan sarang buaya.

“Yang pertama saya khawatirkan saat itu adalah tenggelam. Lalu yang kedua soal buaya. Soalnya kapalnya sudah bocor dan disana benar-benar tidak ada daratan, cuma hutan mangrove. Jadi kami naik ke akar mangrove sambil nunggu bantuan datang,” ungkapnya.

Pos terkait