BALI, KOMPAS.com – Media asing yang berkantor pusat di London, Inggris, Financial Times (FT) menerbitkan artikel berjudul “Indonesia’s president has ‘strong impression’ Putin will miss G20 summit in Bali” di situs web mereka pada Senin (7/11/2022).
Dalam artikel itu disebutkan, bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan dirinya memiliki “kesan kuat” bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menghadiri KTT G20 pekan depan di Bali. Sebelumnya, telah muncul spekulasi tentang kemungkian Putin hadir di KTT G20 di Bali, di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Barat atas Ukraina.
Jika presiden Rusia hadir, itu akan menjadi pertemuan pertamanya sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari dengan Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin NATO lainnya. AS dan negara anggota NATO diketahui telah memberikan puluhan miliar dollar dukungan militer kepada Ukraina dan memberlakukan banyak sekali sanksi ekonomi terhadap Rusia.
Financial Times melaporkan, Presiden Jokowi sempat berbicara kepada Putin pada Rabu (2/11/2022) tentang KTT G20 dan sebagai hasil dari panggilan itu diyakini pemimpin Rusia tidak akan hadir. Presiden Jokowi berkata demikian dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.
Sementara itu, Financial Times mengungkap, Dmitry Peskov, juru bicara Putin, tidak segera menanggapi permintaan komentar. Peskov sempat mengatakan kepada wartawan bahwa Kremlin akan membuat keputusan tentang kehadiran Putin di KTT G20 pada pekan ini. Sementara itu, Putin sempat mengatakan pada bulan lalu, “Rusia pasti akan mengirim wakil (di Bali) pada tingkat tinggi.
Mungkin saya akan pergi juga. Saya akan berpikir tentang hal ini”. Disebutkan Financial Times, Presiden Jokowi menekankan bahwa Rusia tetap dipersilakan untuk menghadiri pertemuan G20 dan Indonesia berharap dapat memfasilitasi dialog internasional untuk melawan apa yang disebutnya peningkatan ketegangan internasional yang “sangat mengkhawatirkan”.
“G20 tidak dimaksudkan untuk menjadi forum politik. Ini dimaksudkan tentang ekonomi dan pembangunan,” tutur Jokowi. Indonesia sendiri dilaporkan Financial Times, berniat menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai topik pembicaraan pekan depan, dua isu yang menjadi perhatian dunia akibat invasi Rusia ke Ukraina.
