“Ekskavasi Tahap 5 Candi Tribhuwana Tunggadewi Gali Lahan 1.500 Meter Persegi”

Mojokerto – Ekskavasi tahap 5 Candi Tribhuwana Tunggadewi atau Situs Bhre Kahuripan di Mojokerto bakal menggali lahan seluas 1.500 meter persegi.

Penggalian arkeologi kali ini untuk mengungkap tata ruang sekaligus menemukan komponen candi yang dibangun pada masa Raja Hayam Wuruk.
Situs Bhre Kahuripan terletak di tengah sawah Desa Klinterejo, Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Yaitu di lahan yang menjadi aset pemerintah desa setempat. Oleh sebab itu sebelah barat Candi Tribhuwana Tunggadewi dimanfaatkan masyarakat untuk lapangan sepakbola, balai tani, dan jalan.

Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan Muhammad Ichwan mengatakan ekskavasi tahap 5 digelar 30 hari terhitung mulai hari ini. Pihaknya telah menentukan 4 titik ekskavasi.

Yaitu di sebelah utara Candi Tribhuwana Tunggadewi, di bagian timur lapangan sepakbola atau sebelah barat candi, di sebelah utara balai tani atau sebelah barat lapangan sepakbola, serta di sebelah barat balai tani sekitar 300 meter dari candi.

“Tujuan ekskavasi mencari data untuk mengungkap struktur dan komponennya di Situs Bhre Kahuripan. Ekskavasi 30 hari dengan luasan sekitar 1.500 meter persegi,” kata Ichwan kepada wartawan di lokasi, Senin (24/10/2022).

Di titik ekskavasi pertama, lanjut Ichwan pihaknya melanjutkan hasil penggalian arkeologi tahap 4. Sebab pada ekskavasi sebelumnya telah ditemukan dinding tebal membentang sekitar 36 meter dari utara ke selatan. Tebal tembok berbahan bata merah kuno ini 140 cm. Terdapat sejumlah tonjolan berbentuk pilaster di sisi barat tembok. Masing-masing pilaster seluas 100 x 100 meter persegi. Jarak antar pilaster sekitar 6 meter.

Sebelah berat struktur purbakala ini ditemukan beberapa umpak berbahan batu andesit. Dinding panjang dan tebal ini ditemukan sekitar 300 meter di sebelah barat Candi Tribhuwana Tunggadewi. Dari hasil penggalian hari pertama ekskavasi tahap 5, ternyata ujung selatan tembok ini berbelok ke arah barat.
Berdasarkan hipotesis tim ekskavasi tahap sebelumnya, struktur ini pagar paling barat Situs Bhre Kahuripan. Artinya, diduga kuat terdapat pintu masuk di struktur ini.

Namun, tak tertutup kemungkinan struktur panjang dan tebal itu bekas pondasi sebuah bangunan besar. Pilaster-pilaster di sisi barat tembok sebagai tempat meletakkan umpak. Untuk menemukan jawaban teka-teki ini, tim ekskavasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim bakal menggali 29 kotak di sebelah barat pagar tersebut. Luas setiap kotak gali 4 meter persegi.

“Pilaster-pilaster itu apakah bidang untuk menempatkan umpak-umpak batu, atau seperti apa, kami mencoba menemukan struktur ke arah barat seandainya ada bangunan besar yang mempunyai atap,” terang Ichwan.

Bangunan berbentuk dinding tebal juga ditemukan di titik ekskavasi kedua, yakni di sebelah barat lapangan sepakbola dan jalan Desa Klinterejo. Di titik sebelah utara balai tani ini, tim ekskavasi akan membuka 45 kotak gali. Penggalian hari pertama ekskavasi tahap 5 sudah membuka 4 kotak tersebut. Sehingga tampak dua dinding sejajar membentang kurang lebih 30 meter dari selatan ke utara. Jarak antar dinding 160 cm.

Struktur berbahan bata merah kuno sebelah timur mempunyai ketebalan 96 cm. Di tengahnya terdapat struktur yang menjorok ke timur sekitar 75 cm. Namun, struktur ini tidak mempunyai pilaster. Sedangkan dinding sebelah barat hanya setebal 1 bata merah. Titik ekskavasi kedua ini sekitar 150 meter di sebelah barat Candi Tribhuwana Tunggadewi.

Titik ekskavasi ketiga sekitar 15-20 meter di sebelah barat Candi Tribhuwana Tunggadewi. Tim dari BPK Wilayah XI Jatim yang sebelumnya bernama BPCB Jatim bakal menggali 57 kotak di bagian timur lapangan sepakbola Desa Klinterejo. Mereka memburu struktur pagar yang membentang dari selatan ke utara.

“Dari ekskavasi sebelumnya ditemukan struktur yang indikasinya pondasi gapura. Kami mencoba mencari pagar sayap gapura itu ke arah utara,” jelas Ichwan.

Sedangkan titik ekskavasi keempat sekitar 10-15 meter di sebelah utara Candi Tribhuwana Tunggadewi.

“Di sebelah utara candi kami ingin membuktikan apakah di situ ada struktur yang terkait situs ini. Kami curigai apakah di situ ada anomali struktur, maka kami coba ekskavasi,” ujarnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *