Doa dan Adab Ziarah Kubur, Berikut Manfaatnya Bagi Peziarah dan yang Diziarahi

SUMEKS.CO – Menjelang bulan Ramadhan, salah satu tradisi yang dilaksanakan sebagian umat muslim yaitu ziarah kubur.

Tempat Pemakaman Umum yang biasanya sepi, bahkan terkesan angker mendadak ramai dikunjungi peziarah.

Ziarah kubur merupakan amalan yang sangat bermanfaat bagi keduanya, yang berziarah maupun yang diziarahi.

Terkait dengan doa saat melakukan ziarah kubur, sudah ada tuntutan yang jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa Ziarah Kubur

Rasulullah shallallahualaihi wasallam telah mengajarkan doa ketika berziarah kubur. Doa yang dimaksud adalah :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’muniina wal muslimin. Yarhamulloohul mustaqdimiina minna wal musta’khiriin.

WA inna insyaa alloohu hukum la-laahiquun.

WA as alullooha lana walakumul’aafiyah.

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadist ini diajarkan kepada Aisyah radhiyallahu anha, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang doa yang dibaca pada saat ziarah kubur. (HR. Ahmad 25855, Muslim 975, Ibnu Hibban 7110, dan lainnya).

Bisa juga dengan bacaan doa yang lebih ringkas, seperti berikut ini :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengunjungi kuburan. Kemudian beliau berdoa,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

“Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum mukminin. Kami insyaa Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim 249)

Adab Ziarah Kubur

Ziarah kubur harus sesuai dengan tuntunan, sehingga mendapatkan manfaat. Adapun adab ziarah kubur terdiri dari sembilan point.

1. Hendaknya mengingat tujuan utama berziarah, yakni untuk mengambil pelajaran dan mengingat kematian.

2. Tidak boleh melakukan safar untuk berziarah

Larangan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah, ed) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha”.

3. Mengucapkan salam ketika masuk kompleks pekuburan.

“Dari Buraidah radhiyallahu anhu, dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan mereka (para sahabat) jika mereka keluar menuju pekuburan agar mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mukminin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”.

4. Tidak memakai sandal ketika memasuki pekuburan.

Dari sahabat Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu anhu : “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah bersabda,

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!” Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia melepas kedua sandalnya dan melemparnya”

5. Tidak duduk di atas kuburan dan menginjaknya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur”.

6. Mendoakan mayit jika dia seorang muslim.

7. Boleh mengangkat tangan ketika mendoakan mayit tetapi tidak boleh menghadap kuburnya ketika mendoakannya tetapi menghadap kiblat.

Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha ketika beliau mengutus Barirah untuk membuntuti Nabi yang pergi ke Baqi Al Gharqad. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam berhenti di dekat Baqi, lalu mengangkat tangan beliau untuk mendoakan mereka.

Dan ketika berdoa, hendaknya tidak menghadap kubur karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan. Sedangkan doa adalah intisari sholat.

8. Tidak mengucapkan al hujr

Al hujr adalah ucapan yang bathil. Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan : “Tidaklah samar lagi bahwa apa yang orang-orang awam lakukan ketika berziarah semisal berdoa pada mayit, istighotsah kepadanya, dan meminta sesuatu kepada Allah dengan perantaranya, adalah termasuk al hujr yang paling berat dan ucapan bathil yang paling besar. Maka wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada mereka tentang hukum Allah dalam hal itu. Dan memahamkan mereka tentang ziarah yang disyariatkan dan tujuan syari dari ziarah tersebut”.

9. Diperbolehkan menangis tetapi tidak boleh meratapi mayit.

Menangis yang wajar diperbolehkan sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam menangis ketika menziarahi kubur ibu beliau sehingga membuat orang-orang disekitar beliau ikut menangis. Tetapi jika sampai tingkat meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, merobek kerah, maka hal ini diharamkan.

Dikutip dari konsultasisyariah.com, Ustad Ami Nurbait, menjelaskan ada dua tujuan utama dalam ziarah kubur.

Pertama, yaitu manfaatnya kembali kepada orang yang berziarah. Bentuknya adalah mengingatkan orang yang berziarah akan kematian dan kehidupan dunia yang fana.

Hal ini selalu ditekankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الْآخِرَةَ

“Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur mengingatkan kalian akan akhirat.” (HR. Ahmad 1236 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَزُورُوَا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكّركُمُ الـمَوتَ

“Lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kalian tentang kematian.” (HR. Ibn Hibban 3169 dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).Kedua, yaitu manfaatnya kembali kepada mayit. Berupa salam dari pengunjung dan doa kebaikan untuk mayit, serta seluruh penghuni kubur lainnya. Orang mati yang sudah tidak mampu menambah amal, sangat membutuhkan doa orang yang masih hidup.(*)

Pos terkait