Digitalisasi Naskah Kuno di Palembang, British Library Gaet dengan UIN Raden Fatah

SUMEKS.CO – British Library di London, Inggris, telah menjalin kerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Kerjasama ini bertujuan untuk melakukan digitalisasi naskah kuno yang ada di Palembang.

Proyek digitalisasi naskah kuno ini didukung sepenuhnya oleh Arcadia Foundation, sebuah lembaga yang berkomitmen dalam pelestarian budaya yang terancam punah.

Tim peneliti yang terlibat dalam digitalisasi ini terdiri dari dosen dan beberapa mahasiswa UIN Raden Fatah, serta melibatkan partisipasi masyarakat setempat.

Program digitalisasi naskah kuno ini diberi nama Endangered Archives Program (EAP) 1454 dan akan dilaksanakan selama satu tahun.

“Program digitalisasi naskah kuno ini sudah di mulai sejak Agustus tahun 2022,” jelas Ketua Tim EAP1454 Palembang, Dr. Nyimas Umi Kalsum., S.Ag., M.Hum. di temui disela-sela pemotretan naskah di UIN Raden Fatah

Dia menjelaskan, digitalisasi tersebut bertujuan menyelamatkan naskah kuno dari kepunahan.

Selain itu untuk hal ini sebagai upaya mengembalikan momori kolektif masyarakat tentang Palembang Darussalam.

Nyimas – panggilaan akrabnya- menjelaskan yang di maksud manuscript atau naskah kuno adalah karya tulis tangan.

Karya itu di tulis di atas kertas, kulit kayu, bambu, tanduk, tulang, lempengan logam atau lainnya yang umurnya di atas 50 tahun.

“Dari sejumlah naskah kuno yang kami temukan di Kota Palembang, umumnya berusia di atas 100 tahun, menggunakan kertas Eropa,”jelasnya.

Karya itu di tulis dengan hurup Arab Melayu atau hurup Jawi dengan bahasa Melayu.

“Ada juga yang menggunakan huruf Ulu dan berbahasa daerah. Seperti bahasa Komering,”imbuhnya

Masih kata Nyimas, isi naskah kuno itu umumnya tentang banyak hal yang bermanfaat.

“Mulai dari sejumlah bidang pengetahuan agama Islam, hukum adat istiadat, pengobatan, syair, catatan harian dan lainnya,”jelasnya

Perempuan yang juga berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah itu mengatakan, bahwa perlunya di lakukan digitalisasi karna naskah kuno yang sudah berusia ratusan tahun itu kini hampir punah.

Menurutnya, kini tidak banyak lagi warga yang menyimpan naskah kuno.

“Kalaupun ada yang memilikinya, umumnya kondisinya sudah rapuh, sehingga sulit untuk dibaca,”ucapnya.

“Bahkan ada juga yang ketika hendak di buka malah hancur karena rapuh,”ujarnya.

Padahal isi naskah kuno itu sangat bernilai.

Peneliti Tak Perlu Lagi Membuka Naskah Asli

Karena itulah kata perempuan yang juga menjabat Ketua Masyarakat Naskah Nusantara (Manassa) Komisariat Sumatera Selatan itu perlunya di lakukan digitalisasi.

“Saat ini banyak mahasiswa, dosen, Fondation dari dalam dan luar negeri meneliti naskah kuno,”katanya.

“Dari penelitian itu tentu akan mengungkap fakta-fakta penting. Sehingga isi naskah kuno itu tetap bisa tersebar ke seluruh dunia,”jelasnya.

Masih kata Nyimas, dengan tersebarnya naskah kuno dalam bentuk digital, penulis dan pemilik naskah serta yang menyebarkannya akan tetap mendapat pahala jariah dari ilmu yang bermanfaat tersebut.

Dengan di lakukannya digitalisasi terhadap naskah kuno, kata Nyimas, maka jika ada yang ingin menelitinya tidak perlu lagi membuka bahkan menyentuh naskah kuno secara langsung.

Karena menyentuh atau membuka berulang kali dengan cara yang tidak benar akan merusak naskah kuno itu.

Mereka cukup mengakses copy digital yang di simpan di perpustakaan maupun pemilik copy digital manuscript tersebut.

“Kita berharap nasah kuno yang asli tetap di simpan dengan baik oleh pemiliknya,”harapnya.

“Ketika melakukan digitalisasi, kami juga memberi edukasi tentang cara merawat dan menyimpan naskah kuno,”bebernya.

Digitalisasi Sesuai Standar British Library

Nyimas menjelaskan, program EAP1454 itu kini sudah masih dalam tahap laporan akhir.

“Pada tahap pertama sekira Agustus 2022 lalu, kami melakukan survey ke beberapa tempat,”jelasnya.

“Di antaranya ke Museum Negeri Sumatera Selatan, ke Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, dan ke beberapa pemilik naskah kuno di dalam kota Palembang,”jelasnya.

Ini di lakukan untuk mengetahui keberadaan naskah kuno yang masih tersimpan dan kemungkinan untuk dilakukan digitaliasi.

”Untuk melakukan digitalisasi itu, tentu kita membutuhkan izin dan kesediaan pemilik ataupun instansi yang menyimpan naskah,”jelasnya.

Nyimas mengakui jika tidak seluruh pemilik naskah kuno dan lembaga yang menyimpan naskah, mau dan memberikan izin naskah kunonya untuk di digitalisasi.

“Umumnya mereka belum paham, menganggap naskah kuno itu warisan turun temurun, tidak boleh di sentuh dan di baca orang lain karena mengandung hal-hal magic dan lainnnya,”cetusnya.

“Bahkan ada juga yang curiga dan prasangka buruk lainnya dengan peneliti karena program ini di lakukan lembaga luar negeri,”katanya.

Lebih lanjut Nyimas Umi Kalsum menjelaskan, sebelum melakukan digitalisasi, Tim EAP 1454  menggelar workshop yang diikuti anggota tim serta mengundang pemilik naskah, mahasiswa dan dosen yang tertarik dan terkait dengan naskah kuno.

Sehingga walau tidak terlibat dalam tim, mereka mendapat ilmu tentang merawat dan melestarikan naskah kuno.

Berhasil Digitalkan 3o Naskah Kuno

“Dalam Workshop itu, kita mengundang mentor yang pernah melakukan digitalisasi EAP di daerah lain di Indonesia,”ucapnya.

Pengerjaan digitalisasi ini harus sesuai dengan standar yang di berikan British Library.

Mulai dari peralatan seperti kamera, copy stand, colour checker dan lainnya.

”Begitu juga dengan cara pemotretan dan hasilnya, harus sesuai standar EAP,”tegasnya.

Dari digitallisasi yang telah di lakukan, menurut Nyimas, Tim EAP 1458 berhasil memotret sekitar 30 naskah kuno.

Ditemui terpisah, Sultan Mahmud  Badaruddin IV Fauwaz Diraja S.H., M.Kn, selaku salah satu pemilik naskah kuno menyambut baik program digitalisasi itu.

Dia mengakui tidak mudah merawat naskah kuno. Jika di lakukan dengan tidak benar maka akan makin hancur.

“Naskah kuno ini tak bisa di simpan di tempat yang lembab dan juga  terlalu kering,”katanya.

Tak hanya itu kata dia, Rumah Adat Kesultanan Palembang Darussalam juga sering di datangi mahasiswa, peneliti dari dalam dan luar negeri untuk melihat koleksi naskah kuno miliknya.

“Naskah kuno ini warisan dari Raja dan keuarga Kerajaan Palembang Darussalam sehingga banyak yang ingin tahu,”katanya.

Tapi kata dia, tidak semua orang mendapat izin untuk melihat apalagi membuka. “Salah satunya ya itu tadi, kita takut rusak dan hancur,”katanya.

Fauwaz mengaku masih menyimpan cukup banyak naskah kuno. Salah satu koleksi naskah kuno miliknya adalah Al quran tulis tangan dengan tinta emas. *

Pos terkait